SUMATERA SELATAN — PT PLN (Persero) bersama Kementerian ESDM menyiapkan paket insentif konversi kompor LPG ke kompor listrik lewat program E-Stove yang rencananya diluncurkan akhir Oktober. Rumah tangga berdaya 2.200 VA ke atas dan pengembang perumahan menjadi sasaran utama diskon, sementara rumah tangga berpenghasilan rendah disiapkan kompor listrik di bawah 900 kVA. Anggaran Rp815,56 miliar untuk program ini sudah masuk Rancangan APBN 2027.
Program E-Stove dirancang sebagai kolaborasi antara PLN dan Kementerian ESDM. Peluncuran awal direncanakan pada akhir Oktober, dengan eksekusi yang berjalan bertahap, bukan serentak.
Besaran Insentif yang Disiapkan
PLN menyiapkan empat bentuk insentif utama. Pertama, potongan biaya penyambungan bagi pengembang perumahan yang memasang daya listrik siap pakai untuk kompor listrik di unit yang mereka bangun.
Kedua, potongan biaya tambah daya bagi rumah berdaya 2.200 VA ke atas yang beralih ke kompor induksi atau kompor listrik. Ketiga, potensi diskon tarif listrik pada jam-jam tertentu saat utilisasi listrik rendah. Keempat, penyediaan kompor listrik di bawah 900 kVA untuk rumah tangga oleh pemerintah.
Skema insentif ini disebut mengambil pelajaran dari pola yang pernah dipakai saat kendaraan listrik baru berkembang di Indonesia.
Siapa yang Paling Berpotensi Beralih
PLN membagi sasaran program ke dalam tiga segmen. Rumah tangga berpenghasilan rendah menjadi target utama subsidi. Rumah tangga menengah dan menengah ke atas disebut paling berpotensi beralih karena tidak mempermasalahkan biaya peralihan.
Pengembang perumahan, pabrikan kompor listrik, serta kontraktor kelistrikan masuk sebagai pihak yang mendapat aliran permintaan baru. Adapun distributor dan pengecer LPG bersubsidi berpotensi kehilangan volume secara bertahap.
Alasan di Balik Program
Pemerintah menyebut dua pendorong utama: subsidi energi yang kian membengkak dan kondisi global yang memengaruhi pasokan minyak serta gas. Setiap rumah tangga yang beralih dari LPG bersubsidi ke listrik mengurangi volume LPG yang harus diimpor dan disubsidi.
Namun subsidi tidak hilang, hanya berpindah bentuk. Jika listrik untuk memasak ikut ditopang insentif, pemerintah menukar satu pos subsidi dengan pos lain. Keuntungan bersihnya bergantung pada selisih biaya per satuan energi antara LPG dan listrik.
Skema diskon pada jam sepi juga memperlihatkan motif operasional PLN: mendorong konsumsi pada periode beban rendah agar aset pembangkit yang menganggur termanfaatkan.
Dampak ke Pelaku Usaha
Distributor dan pengecer LPG bersubsidi menghadapi risiko penurunan volume secara bertahap. Dampak ini baru terasa signifikan setelah konversi mencakup jumlah rumah tangga besar, bukan pada peluncuran awal akhir Oktober.
Pertamina menghadapi tantangan menata ulang permintaan LPG domestik. Sebaliknya, produsen kompor listrik, pengembang perumahan, kontraktor kelistrikan, dan pemasok peralatan jaringan distribusi berpotensi menerima permintaan baru lebih dulu.
Bagi PLN, konversi ini menambah penjualan listrik sekaligus menuntut kesiapan jaringan distribusi yang lebih besar. Beban transformator dan kabel di kawasan padat hunian dapat menjadi hambatan nyata.
Cara Mengakses Program
Informasi resmi mengenai pendaftaran, syarat penerima, dan jadwal pencairan insentif dapat diakses melalui kanal PLN dan Kementerian ESDM. Masyarakat diimbau menunggu pengumuman resmi sebelum melakukan pendaftaran apa pun.
Waspadai pihak yang mengatasnamakan program E-Stove dan meminta biaya pendaftaran. Program ini tidak memungut biaya kepada calon penerima. Laporkan indikasi penipuan ke kanal pengaduan resmi PLN atau Kementerian ESDM.