Pencarian

Bahasa Palembang Sehari Hari: Kosakata dan Contoh Percakapan

Kamis, 03 September 2026 • 14:50:01 WIB
Bahasa Palembang Sehari Hari: Kosakata dan Contoh Percakapan
Warga berinteraksi menggunakan bahasa Palembang sehari-hari di kawasan permukiman Palembang, Sumatera Selatan.

PALEMBANG - Bahasa palembang sehari hari membawa suasana khas ketika terdengar dalam obrolan di warung, pasar, rumah, kampus, hingga lingkungan kerja.

Bagi pendatang, beberapa kata mungkin terdengar seperti bahasa Indonesia dengan perubahan bunyi, sementara kata lainnya memiliki bentuk yang benar-benar berbeda.

Menariknya, penggunaan bahasa Palembang tidak sekadar soal mengganti “apa” menjadi “apo” atau “tidak” menjadi “dak”; intonasi, hubungan antarlawan bicara, serta konteks ikut menentukan rasa sebuah kalimat.

Mengenal bahasa palembang sehari hari berarti mengenal salah satu cara masyarakat Palembang membangun keakraban melalui kata-kata.

Mengenal karakter bahasa Palembang

Bahasa Palembang atau baso Palembang mempunyai ciri yang mudah dikenali, salah satunya kecenderungan penggunaan vokal “o” pada sejumlah kata seperti apo, mano, kayo, dan dio. Namun, pola tersebut tidak berlaku untuk semua kosakata.

Sumber yang mengutip buku Struktur Bahasa Melayu Palembang terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menunjukkan bahwa kosakata Palembang memiliki keragaman yang lebih luas.

Bahasa Palembang dalam percakapan sehari-hari juga memperlihatkan pengaruh Melayu dan unsur yang berkaitan dengan sejarah kebahasaan Palembang.

Karena itu, mempelajarinya lebih menarik jika tidak hanya menghafal daftar kata, tetapi memahami bagaimana kata tersebut digunakan dalam percakapan.

Kosakata dasar yang paling berguna

Kata-kata dasar berikut cukup penting untuk dipahami sebelum masuk ke percakapan yang lebih panjang.

Kata ganti dan kata umum

Aku: saya.

Kau/Awak: engkau atau kamu.

Dio: dia.

Kito: kita.

Wong: orang.

Budak: anak.

Ayuk: kakak perempuan.

Cek: panggilan untuk perempuan dewasa.

Mamang: paman.

Yai/Yek/Datuk: kakek.

Nyai/Nyek: nenek.

Dalam praktiknya, sapaan menjadi bagian penting dari suasana percakapan.

Kata “ayuk”, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai penanda hubungan keluarga, tetapi juga dapat menjadi panggilan kepada perempuan yang lebih tua atau lebih dituakan dalam situasi tertentu.

Kata untuk bertanya

Apo: apa.

Ngapo: kenapa.

Cak mano atau cakmno: bagaimana.

Di mano: di mana.

Ke mano: ke mana.

Siapo: siapa.

Berapo: berapa.

Contoh sederhana:

“Ngapo dak datang kemaren?”

Artinya: “Kenapa tidak datang kemarin?”

Kalimat seperti ini terdengar lebih natural ketika kosakata lokal dipakai bersama pola kalimat yang sederhana, bukan ketika setiap kata Indonesia dipaksakan untuk diganti.

Bahasa Palembang sehari hari untuk obrolan santai

Percakapan santai biasanya menggunakan kosakata yang pendek, spontan, dan sangat bergantung pada konteks.

Kata yang sering muncul

Dak/idak: tidak.

Ado: ada.

Katek: tidak ada.

Pacak: bisa atau mampu.

Dak pacak: tidak bisa.

Nak: mau.

Galak: dalam beberapa penggunaan dapat berarti mau, suka, atau sering.

Bae: saja.

Nian: sangat atau sekali.

La/udem: sudah.

Kagek: nanti.

Balek: pulang.

Pegi: pergi.

Jingok: lihat.

Payo: ayo atau mari.

Beberapa kata mempunyai nuansa yang harus dipahami dari konteks. “Galak”, misalnya, tidak selalu berarti “marah” sebagaimana makna kata dalam bahasa Indonesia.

Dalam daftar kosakata Palembang yang dihimpun dari sumber kebahasaan, kata tersebut digunakan untuk makna seperti mau, suka, atau sering.

Contoh percakapan di rumah

Percakapan keluarga menjadi tempat paling mudah untuk memahami pola bahasa Palembang karena konteksnya akrab.

Percakapan pagi

A: “Kau la makan?” B: “Belom. Ado makanan dak?” A: “Ado. Ambek bae di dapur.” B: “Ao, makasih.”

Artinya secara umum:

A: “Sudah makan?” B: “Belum. Ada makanan tidak?” A: “Ada. Ambil saja di dapur.” B: “Iya, terima kasih.”

Kata “ado” berarti “ada”, sementara “dak” berarti “tidak”. Pola seperti ini cukup mudah dikenali setelah beberapa kali mendengar percakapan lokal.

Percakapan hendak pergi

A: “Nak ke mano?” B: “Nak ke pasar.” A: “Payo bareng, aku jugo nak beli sayur.” B: “Ao, tunggu sebentar.”

Dalam bahasa Indonesia:

“Pergi ke mana?” “Mau ke pasar.” “Ayo bersama, saya juga mau membeli sayur.” “Iya, tunggu sebentar.”

Percakapan di warung dan tempat makan

Warung adalah ruang yang bagus untuk mendengar bahasa Palembang karena percakapan berlangsung cepat dan langsung.

Saat membeli makanan

Berapo hargo ini?” — Berapa harga ini?

“Ado pempek kapal selam dak?” — Ada pempek kapal selam tidak?

Enjuk cuko lebih, ye.” — Berikan cuko lebih, ya.

“Makan di sini bae.” — Makan di sini saja.

Bungkui bae.” — Bungkus saja.

Kata bae sering digunakan dengan makna “saja”. Sementara payo digunakan untuk mengajak, misalnya “Payo kito makan” yang berarti “Ayo kita makan.” Sumber kosakata Palembang juga mencatat “payo” sebagai bentuk ajakan dan “bae” sebagai “saja”.

Percakapan dengan teman sebaya

Bahasa daerah biasanya terasa paling hidup ketika digunakan dalam hubungan yang sudah akrab.

Kosakata yang sering terdengar

Lemak: enak.

Siru: heboh atau ribut.

Betakoan: banyak gaya.

Cindo: cantik.

Cugak: kecewa.

Begoco: berkelahi.

Besak: besar.

Gancang: cepat.

Lamo: lama.

Prei: libur.

Contoh:

A: “Lemak nian makanan di sini.” B: “Ao, pantes banyak wong datang.” A: “Payo makan lagi.” B: “Jangan, kenyang aku.”

Dalam konteks ini, “nian” berfungsi sebagai penguat yang kurang lebih setara dengan “sangat” atau “banget”.

Ungkapan penting untuk pendatang

Pendatang tidak perlu langsung menguasai ratusan kata. Beberapa frasa dasar sudah cukup untuk membuka percakapan.

Frasa untuk situasi sehari-hari

“Apo kabar?” — Apa kabar?

“Di mano?” — Di mana?

“Ke mano?” — Ke mana?

Ngapo?” — Kenapa?

“Cak mano?” — Bagaimana?

“Pacak dak?” — Bisa tidak?

“Dak pacak.” — Tidak bisa.

“Dak terti.” — Tidak mengerti.

“Dak papo.” — Tidak apa-apa.

“Payo.” — Ayo atau mari.

Baleklah.” — Pulanglah.

Kagek bae.” — Nanti saja.

Kosakata seperti “cak mano”, “di mano”, “payo”, “dak pacak”, dan “dak terti” juga muncul dalam daftar kosakata serta contoh percakapan yang bersumber dari materi kebahasaan Palembang.

Perbedaan gaya bicara dan konteks

Belajar bahasa daerah tidak cukup hanya mengetahui arti kata. Situasi sosial ikut menentukan apakah sebuah ungkapan terdengar akrab, bercanda, atau kurang pantas.

Kata seperti kau dan awak tercatat sebagai kata ganti orang kedua dalam sejumlah daftar kosakata Palembang.

Namun, dalam situasi resmi atau ketika berbicara dengan orang yang lebih tua dan belum akrab, pilihan sapaan perlu disesuaikan dengan hubungan sosial.

Begitu pula kata yang bernada mengejek. Kosakata seperti buyan, lolo, atau bengak tercatat dengan makna yang berkaitan dengan “bodoh”, tetapi penggunaannya dapat terdengar kasar.

Karena itu, kosakata tersebut lebih baik dikenali untuk memahami percakapan daripada sembarangan digunakan kepada orang yang baru dikenal.

Cara cepat belajar bahasa Palembang

Belajar akan lebih efektif jika kata baru langsung ditempatkan dalam situasi.

Metode 10 kata per minggu

Pilih sepuluh kata yang benar-benar berguna, misalnya:

Apo.

Ngapo.

Di mano.

Ke mano.

Dak.

Ado.

Pacak.

Payo.

Kagek.

Balek.

Kemudian buat satu kalimat sederhana untuk setiap kata. Setelah terbiasa, tambahkan kata baru.

Dengarkan percakapan asli

Film, video wawancara, percakapan keluarga, pasar, atau konten lokal dapat membantu menangkap intonasi.

Perbedaan antara membaca “dak” dan mendengar orang mengucapkan “dak” dalam percakapan sering kali cukup besar.

Jangan menerjemahkan kata demi kata

Bahasa daerah memiliki rasa. Sebuah kalimat dapat terdengar natural bagi penutur asli tetapi terasa aneh jika setiap kata diterjemahkan secara mekanis dari bahasa Indonesia.

Kesalahan umum saat belajar

Ada beberapa jebakan yang cukup sering terjadi ketika mempelajari bahasa lokal.

Menganggap semua kata harus berakhiran “o”.

Menggunakan kata kasar kepada orang yang lebih tua.

Menghafal kosakata tanpa memahami konteks.

Menggunakan terlalu banyak kata lokal sekaligus.

Mengabaikan intonasi.

Menganggap satu kata selalu memiliki satu makna.

Menggunakan sapaan yang terlalu akrab kepada orang yang belum dikenal.

Salah satu ciri penting bahasa Palembang memang penggunaan bunyi “o” pada banyak kosakata, tetapi sumber kebahasaan yang dirujuk dalam berbagai publikasi menegaskan bahwa tidak semua kata mengikuti pola tersebut.

Contoh dialog lengkap

Berikut contoh percakapan ringan antara dua orang yang hendak mencari tempat makan.

Dialog

A: “Payo makan, aku laper nian.” B: “Nak makan di mano?” A: “Di tempat biaso bae.” B: “Yang dekat sini?” A: “Ao. Jalan kaki pacak.” B: “Payo. Tapi jangan lamo-lamo, aku ado gawe.” A: “Dak papo. Abis makan kito balek.”

Maknanya:

“Ayo makan, saya sangat lapar.” “Mau makan di mana?” “Di tempat biasa saja.” “Yang dekat sini?” “Iya. Bisa berjalan kaki.” “Ayo. Tetapi jangan lama-lama, saya ada pekerjaan.” “Tidak masalah. Setelah makan kita pulang.”

Dialog tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Palembang dapat digunakan dengan struktur yang tetap mudah dipahami.

Tidak semua kata harus diganti; justru campuran kosakata lokal dengan struktur yang sederhana sering membuat percakapan terdengar lebih alami.

FAQ

Apa arti “dak” dalam bahasa Palembang?

“Dak” atau “idak” berarti “tidak”. Keduanya tercatat dalam berbagai daftar kosakata bahasa Palembang.

Apa arti “pacak”?

“Pacak” berarti bisa atau mampu. “Dak pacak” berarti tidak bisa.

Apa arti “payo”?

“Payo” berarti ayo atau mari dan lazim digunakan untuk mengajak seseorang melakukan sesuatu.

Apa arti “cak mano”?

“Cak mano” atau “cakmno” berarti bagaimana. Frasa tersebut termasuk kosakata pertanyaan yang umum dalam bahasa Palembang.

Apakah semua bahasa Palembang berakhiran “o”?

Tidak. Penggunaan bunyi “o” memang menjadi ciri yang mudah dikenali, tetapi kosakata bahasa Palembang tidak seluruhnya mengikuti pola tersebut.

Penutup

Ada kehangatan tersendiri ketika sebuah bahasa daerah dipakai bukan sekadar untuk menunjukkan asal, tetapi untuk membangun rasa dekat.

Dari “payo” yang mengajak hingga “dak papo” yang menenangkan, bahasa palembang sehari hari menyimpan cara masyarakat Palembang bercakap dengan warna yang khas—sederhana, spontan, dan penuh rasa.

Follow inisumsel.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks