SUMATERA SELATAN — Optimisme pemulihan kinerja Garuda Indonesia menguat setelah pemerintah menyelesaikan reaktivasi 20 unit pesawat hingga Juni 2026. Dengan tambahan tersebut, total armada maskapai pelat merah yang beroperasi kini mencapai 140 unit, menjadi modal utama untuk keluar dari jerat kerugian yang membelit selama beberapa tahun terakhir.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan target tersebut di hadapan para anggota MPR, DPR, dan DPD dalam Sidang Tahunan Tahun 2026, Jumat, 14 Agustus. Menurut dia, momentum keuntungan sebenarnya sudah di depan mata, namun tertahan oleh kondisi geopolitik global.
Perang Timur Tengah Tunda Target Keuntungan
Prabowo mengungkapkan bahwa tanpa konflik yang terjadi di Timur Tengah, Garuda Indonesia sebenarnya sudah bisa mencatatkan keuntungan pada Juli ini. Kondisi tersebut dinilai menjadi faktor eksternal yang menghambat akselerasi pemulihan keuangan perusahaan.
"Garuda Indonesia yang sudah sekian tahun rugi, sekarang sudah ada harapan untuk kembali untung. Kalau kemarin tidak terjadi perang di Timur Tengah, sesungguhnya bulan Juli ini Indonesia sudah untung," kata Prabowo dalam pidatonya.
Meski dihadapkan pada tekanan eksternal, pemerintah tetap optimistis. Harapan itu disampaikan langsung oleh kepala negara dengan menyebut awal 2027 sebagai titik balik kebangkitan maskapai kebanggaan bangsa tersebut.
"Kita sekarang berharap di awal tahun 2027 mereka sudah mulai untung," pungkas Prabowo.
Garuda Disiapkan Menjadi Holding Maskapai BUMN
Langkah strategis lain tengah disiapkan pemerintah untuk memperkuat posisi Garuda Indonesia di industri penerbangan nasional. Danantara Indonesia bersama Badan Pengelola (BP) BUMN berencana menjadikan Garuda sebagai holding maskapai pelat merah.
Dalam skema konsolidasi tersebut, Pelita akan bergabung ke dalam Garuda Indonesia Group. Rencana ini mengemuka dalam pertemuan antara Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, dengan jajaran direksi Pelita pada Kamis, 23 Juli.
Dony menegaskan bahwa integrasi ini bukan sekadar penggabungan korporasi, melainkan upaya membangun daya saing yang lebih kokoh di pasar penerbangan. Dengan menjadi bagian dari Garuda Group, Pelita diharapkan mampu memperkuat posisi tawar perusahaan di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
"Garuda Indonesia nanti akan menjadi holding maskapai kita. Pelita akan menjadi bagian dari Garuda Indonesia. Dengan konsolidasi ini, perusahaan-perusahaan tersebut akan memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk bersaing dan menguasai pasar," ujar Dony dalam keterangan resminya, Jumat, 24 Juli.
Pengelolaan Presisi Jadi Kunci Perbaikan Kinerja
Dony menekankan bahwa industri penerbangan menuntut pengelolaan yang presisi dan ketelitian tinggi. Setiap keputusan operasional, mulai dari penentuan rute hingga manajemen konektivitas, berdampak langsung pada untung atau ruginya perusahaan.
"Industri yang membutuhkan ketelitian, yang harus dikelola day by day, minute by minute, adalah industri penerbangan. Begitu pesawat terbang, kita sudah bisa mengukur untung atau ruginya satu penerbangan. Karena itu, penting melakukan analisis terhadap setiap rute dan konektivitas," katanya.
Analisis berkesinambungan terhadap rute dan konektivitas menjadi pekerjaan rumah yang harus dijalankan manajemen Garuda Indonesia ke depan. Konsolidasi holding dan reaktivasi armada diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi target keuntungan yang dicanangkan Presiden pada awal 2027.