Gubernur Sumsel dan Menteri LH Tinjau Karhutla di Tulung Selapan, Matangkan Strategi Pemulihan Gambut OKI

Penulis: Rizal Hamdani  •  Senin, 02 November 2026 | 07:31:31 WIB
Gubernur Sumsel Herman Deru dan Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat meninjau penanganan karhutla di Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir.

TULUNG SELAPAN — Gubernur Sumsel Herman Deru menegaskan bahwa fokus penanganan karhutla ke depan bergeser ke pencegahan dan rehabilitasi lahan. Pemerintah provinsi bersama Kementerian Lingkungan Hidup menyusun langkah jangka panjang untuk memulihkan ekosistem gambut di Ogan Komering Ilir yang menjadi salah satu titik rawan kebakaran.

Deru menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap penanganan karhutla di Sumsel. Ia menekankan bahwa upaya di lapangan melibatkan kolaborasi berbagai instansi dan seluruh unsur terkait.

"Kami berterima kasih atas kunjungan Bapak Menteri, Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove, serta unsur jajaran petinggi Polri dari Jakarta. Kami sepakat, mudah-mudahan tahun 2026 ini menjadi akhir dari kejadian-kejadian karhutla yang masif. Ke depan, fokus kita adalah pencegahan dan rehabilitasi lahan," ujar Herman Deru.

Lebih dari 12.000 Personel Satgas Dikerahkan di Lapangan

Gubernur memberikan penghargaan khusus kepada lebih dari 12.000 personel Satuan Tugas Karhutla yang berjibaku di lapangan. Mereka terdiri atas Manggala Agni, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api, hingga relawan dari berbagai perusahaan swasta.

Deru mengingatkan seluruh tim agar tidak terlena dengan mulai turunnya curah hujan. Musim hujan secara alami belum sepenuhnya tiba, sehingga Operasi Modifikasi Cuaca terus digencarkan dengan mengerahkan dua pesawat Hercules setiap hari selama masih ada potensi awan hujan.

Rehidrasi Gambut hingga Nozzle Khusus Titik Api Pekat

Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat memaparkan sejumlah metode baru dalam mitigasi karhutla. Salah satunya teknik rehidrasi atau pembasahan kembali lahan gambut menggunakan pompa berkapasitas besar yang mengalirkan air langsung dari sungai.

Pemerintah juga memperkenalkan inovasi alat pemadam bernama Sambunesia Nozzle. Teknologi itu dirancang menggantikan peran manusia dalam menjangkau titik api berintensitas pekat di tengah hutan, mengingat keterbatasan ketahanan fisik petugas. Dengan alat tersebut, operasi pemadaman diharapkan berlangsung optimal selama 24 jam penuh.

Salam Presiden untuk Petugas: "Kalianlah Garda Terdepan"

Jumhur menyampaikan apresiasi sekaligus salam khusus dari Presiden Republik Indonesia kepada seluruh petugas di lapangan. Ia memuji dedikasi para pejuang karhutla yang bekerja siang dan malam serta meninggalkan keluarga demi kepentingan bangsa.

"Salam dari Bapak Presiden untuk saudara sekalian yang berjuang siang dan malam. Apabila tidak ada kalian yang jumlahnya hampir 100.000 orang di seluruh Indonesia ini, entah bagaimana kondisi asapnya. Pemerintah menyusun regulasi dan dukungan, tetapi kalianlah garda terdepan," ungkap Menteri.

Polri Soroti Edukasi dan Restorasi, Bukan Sekadar Pemadaman

Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri Irjen Pol. Hery Herjawan menekankan pentingnya pemahaman ekologis terhadap karakteristik lahan gambut. Menurutnya, penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga dilanjutkan dengan edukasi kepada masyarakat dan restorasi lingkungan secara menyeluruh.

"Kita bukan hanya melihat pada upaya pemadaman api, tetapi bagaimana memberikan kesadaran kepada semuanya. Mari kita tingkatkan pencegahan sejak dini melalui edukasi, tidak membakar sembarangan, serta melakukan restorasi dan reforestasi bersama penanaman pohon," tegas Irjen Pol. Hery Herjawan.

Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, korporasi, dan masyarakat diharapkan terus menunjukkan hasil signifikan di Sumsel maupun wilayah rawan lainnya. Upaya itu menjadi bagian dari langkah bersama mewujudkan Indonesia bebas asap.

Reporter: Rizal Hamdani
Sumber: beritapagi.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top