EMPAT LAWANG — Pemulangan berlaku untuk seluruh jenjang, mulai SD, SMP, hingga SMA. Kegiatan belajar tetap berjalan lewat pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama kompleks sekolah dan asrama belum siap menerima penghuni.
Kepala SR Terintegrasi 1 Kabupaten Empat Lawang, Suparno, membenarkan kebijakan tersebut. Ia menyebut dua alasan utama: pasokan air tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sejumlah bangunan masih dalam perbaikan.
"Dipulangkan sementara karena ketersediaan air tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari anak-anak. Alasan berikutnya karena ada perbaikan gedung asrama putra dan putri dan perbaikan gedung sekolah," kata Suparno.
Ia menambahkan seluruh siswa mengikuti pembelajaran dari rumah. "Seluruh siswa SD, SMP dan SMA dipulangkan semua. Siswa tetap belajar dengan sistem PJJ," ujarnya.
Hingga kini, jadwal siswa menempati kembali sekolah dan asrama belum diputuskan. Suparno menyebut keputusan itu menunggu hasil rapat bersama sejumlah pihak.
Rapat melibatkan satuan kerja strategis PPS, penyedia jasa Waskita, tim transisi pemerintah daerah, Biro Umum Kementerian Sosial, serta pihak sekolah.
Pada tahun ajaran 2026/2027, SR Terintegrasi 1 Empat Lawang menerima 270 siswa. Rinciannya, 150 siswa SD, 30 siswa SMP, dan 90 siswa SMA. Siswa lama yang melanjutkan pendidikan turut menambah jumlah penghuni asrama.
Sebagai sekolah berasrama, kebutuhan air tidak sebatas aktivitas ruang kelas. Air dipakai untuk mandi, mencuci, toilet, memasak, kebersihan lingkungan, hingga aktivitas harian siswa dan tenaga pendidik.
Kondisi itu membuat pasokan air menjadi bagian penting dari kesiapan operasional sekolah, bukan sekadar fasilitas pendukung.
Wakil Bupati Empat Lawang, Arifai, mengatakan pemerintah telah berupaya mencari sumber air untuk memenuhi kebutuhan Sekolah Rakyat. Ia menyebut pembangunan sumur bor di beberapa titik belum membuahkan hasil.
"Sekolah Rakyat sudah diatasi dan sekarang proses penyelesaian mata air. Dulu sudah dilakukan pembangunan sumur bor di beberapa titik tapi belum mendapatkan air," ujar Arifai.
Pemerintah daerah kemudian beralih ke alternatif sumber air yang dinilai lebih mampu memenuhi kebutuhan jangka panjang.
Sekretaris Daerah Empat Lawang, Fauzan Khoiri, mengatakan Dinas PUPR bersama Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sumatera Selatan telah meninjau sumber air baku di Sungai Kemumu.
Peninjauan dilakukan untuk mempercepat pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) bagi SR Terintegrasi 1. Sungai Kemumu dipilih karena debit airnya dinilai deras dan relatif stabil, termasuk saat musim kemarau.
"Rencananya, titik intake dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) berada sekitar dua kilometer dari kompleks Sekolah Rakyat," kata Fauzan.
Air baku dari sungai akan diolah sebelum disalurkan lewat jaringan perpipaan menuju asrama dan area sekolah. BPBPK Sumsel dan Dinas PUPR akan mengkaji aspek teknis perpipaan serta sistem distribusi, dengan melibatkan Perumda Tirta Seguring Betung.
Pengamat Pendidikan, Ade Indra Chaniago, menilai persoalan tersebut tidak semestinya hanya berhenti pada penyediaan solusi teknis. Ia menyoroti proses penghitungan kebutuhan air yang seharusnya dilakukan sebelum siswa ditempatkan.
Pertanyaan serupa muncul soal kapasitas sumber air yang belum diuji berdasarkan jumlah siswa yang tinggal di asrama. Begitu pula kesiapan jaringan distribusi dan penampungan air ketika seluruh siswa mulai masuk.
Pola pendidikan Sekolah Rakyat yang berbeda dari sekolah reguler membuat isu ini krusial. Siswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga tinggal dan menjalani aktivitas harian di lingkungan sekolah.
Pemerintah berharap pembangunan SPAM menjadi solusi permanen untuk kebutuhan air bersih di kawasan Sekolah Rakyat. Sambil menunggu, seluruh siswa masih mengikuti PJJ dari rumah.