PALEMBANG — Luas lahan terbakar di Sumatera Selatan tercatat 6.552,31 hektare berdasarkan data per 14 September 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga melaporkan 116 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi serta 20 titik api dengan estimasi luas terbakar sekitar 404,22 hektare.
Angka itu dipaparkan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam rapat koordinasi virtual yang dipimpin Menko Polkam Djamari Chaniago, Selasa (15/9/2026). Gubernur Sumsel Herman Deru dan Sekda Edward Candra mengikuti rakor dari Palembang bersama Kapolda Sumsel Irjen Pol. Sandi Nugroho dan Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis.
Djamari menekankan pentingnya konsistensi dan akurasi data antarinstansi. Menurutnya, informasi soal luasan lahan terbakar harus terbuka kepada publik tanpa perbedaan angka antarlembaga.
"Harus segera kita rangkumkan data secara tepat, termasuk kasus yang sudah ditangani, dan segera kita sampaikan kepada masyarakat atas penanggulangan serta penanganan yang kita laksanakan," tegas Djamari.
Rakor tersebut digelar sebagai tindak lanjut instruksi Presiden terkait peningkatan upaya penanggulangan karhutla. Pemerintah berupaya menyamakan persepsi sekaligus menuntaskan kendala teknis di lapangan.
Djamari menjelaskan operasi pemadaman paling efektif dilakukan lewat kombinasi udara dan darat. Operasi udara sangat bergantung pada ketersediaan awan hujan, sementara operasi darat kerap menghadapi kendala mengakses sumber air menuju titik api.
Kondisi cuaca di Sumsel saat ini minim awan hujan karena tidak ada bibit hujan sejak 12 September 2026. Jarak pandang terpantau berkisar 4 hingga 8 kilometer, dengan aktivitas penerbangan secara umum masih relatif normal.
Satgas Karhutla mengerahkan 11.026 personel satgas darat untuk penanganan di lapangan. Selain itu, dua unit pesawat patroli/OMC satgas udara serta tujuh unit helikopter water bombing diterjunkan.
Kombinasi kekuatan darat dan udara itu disiapkan untuk mempercepat pemadaman di titik-titik api yang masih aktif. Pemerintah menargetkan penanganan berjalan optimal melalui koordinasi lintas unsur, termasuk memastikan data luas terbakar yang dilaporkan ke publik akurat.