SUMATERA SELATAN — Paviliun Global Africa Hub jadi pusat aktivitas mereka di Toronto. Fasilitas ini disponsori Canex Creations, inisiatif pan-Afrika yang diluncurkan African Export-Import Bank (Afreximbank) untuk membiayai dan mempromosikan industri kreatif benua tersebut.
Global Africa Hub digelar bersama sejumlah mitra industri. Ada Nigerian private equity firm MBO Capital, rumah produksi genre asal Afrika Selatan Gambit Films, Narratives Entertainment dari Nigeria, dan FilmOne yang dikenal sebagai distributor besar di pasar Nigeria.
Turut hadir sebagai peserta pameran International Salon for Audiovisual Content (SICA), ajang dagang tahunan yang berbasis di Pantai Gading. Kehadiran SICA menandai bahwa hub ini tidak hanya menyasar Nigeria dan Afrika Selatan, tapi juga industri dari Afrika Barat francophone.
Charles Tremblay, yang memimpin TIFF: The Market, menyebut pasar ini dirancang untuk melanjutkan tradisi festival dalam membuka akses bagi konten global.
"Kami bersemangat melanjutkan hubungan panjang dan produktif dengan benua Afrika melalui berbagai inisiatif pasar untuk perusahaan dan kreator," ujar Tremblay.
Ia menambahkan pihaknya tengah mencermati lanskap pembiayaan, produksi, dan distribusi di Afrika saat ini. "Program Summit kami mencerminkan minat itu," katanya.
Toronto memang bukan wajah baru bagi sinema Afrika. Tahun ini, sejumlah judul anyar masuk daftar tayang, termasuk karya sutradara Afrika Selatan John Trengove ("The Smell of Apples") dan Jenna Cato Bass ("Future Tense").
EbonyLife Films milik Mo Abudu juga membawa "The Secret Lives of Baba Segi's Wives", adaptasi novel debut Lola Shoneyin tahun 2010. Ini jadi seleksi kelima EbonyLife di TIFF.
Festival juga menggelar premiere Amerika Utara untuk "Clarissa", adaptasi "Mrs. Dalloway" karya Virginia Woolf yang disutradarai duet Arie dan Chuko Esiri. Film berlatar Lagos itu sudah lebih dulu tayang di Cannes dan diakuisisi Neon.
Salah satu program utama kemitraan ini adalah pemutaran judul-judul Afrika di depan eksekutif akuisisi dan distribusi Amerika Utara. Canex Creations menyiapkan sejumlah karya dalam proses produksi (works in progress) untuk dipresentasikan.
Dua di antaranya "The Black Book 2: Old Scores", sekuel film aksi Netflix karya Editi Effiong, dan "I'm Coming for You", debut fiksi sutradara Cyrielle Raingou yang sebelumnya menang di Rotterdam lewat "Le Spectre de Boko Haram".
Ada pula special buyers screening untuk "Muganga — The One Who Treats", drama advokasi yang terinspirasi kisah nyata peraih Nobel Perdamaian Dr. Denis Mukwege. Film ini disutradarai Marie-Hélène Roux dan diproduseri bersama Angelina Jolie.
CEO Canex Creations Osahon Akpata menyebut akses ke pasar masih jadi persoalan utama sineas Afrika.
"Akses ke pasar tetap menjadi tantangan. Menavigasi pasar-pasar ini tidak selalu menjadi hal yang kami persiapkan dengan baik, dan itu memengaruhi kemampuan kami mendapatkan hasil yang bagus," ujar Akpata kepada Variety.
Lewat kemitraan dengan TIFF, Canex berjanji memaksimalkan koneksi sineas Afrika dengan peluang komersial. "Kami akan melakukan sebanyak mungkin untuk menghubungkan mereka dengan peluang komersial," katanya.
Sejumlah eksekutif dijadwalkan mengisi panel soal model baru pembiayaan dan distribusi film Afrika. Selain Akpata, hadir produser Gobez Media Tamara Dawit, executive director MBO Capital Adekunle Adebiyi, dan COO Tribeca Enterprises Janet Brown.
Mo Abudu dari EbonyLife akan berbagi panggung dengan Moses Babatope dari Nile Media Entertainment Group. Keduanya membahas kesuksesan global industri film Nigeria atau Nollywood.
Abudu menilai animo penonton terhadap cerita Afrika sedang naik. Ia merujuk pada sejumlah pemutaran "Baba Segi's Wives" yang sold out di Toronto.
"Saya pikir itu memberi petunjuk tentang selera terhadap konten kami. Dunia mulai menghargai kami sebagai diri kami sendiri. Ini waktunya kami. Ini momen kami," ujar Abudu.
Bagi industri film Afrika, kehadiran Global Africa Hub di pasar film baru TIFF menjadi ujian awal. Pertanyaannya bukan lagi soal visibilitas di festival, melainkan apakah kesepakatan distribusi benar-benar terwujud setelah karpet merah digulung.