Danantara Setahun: 23 BUMN Rugi Rp25 Triliun, Beban Utang Karya yang Menanti

Penulis: Ahmad Syukri  •  Selasa, 01 September 2026 | 13:06:31 WIB
Danantara mencatatkan 23 BUMN mengalami kerugian Rp25,12 triliun pada tahun pertama operasionalnya.

SUMATERA SELATAN — Memasuki usia satu tahun, Danantara belum bisa menunjukkan laporan keuangan yang dinanti publik. Superholding BUMN ini justru disibukkan oleh pekerjaan konsolidasi dan restrukturisasi, mengingat banyak perusahaan pelat merah yang kondisinya memprihatinkan. Temuan lapangan menunjukkan sejumlah perusahaan memiliki "laba di atas kertas" yang tidak didukung kas riil, bahkan ada indikasi penggelembungan cash dan piutang fiktif.

COO Danantara Dony Oskaria dalam berbagai kesempatan mengungkapkan adanya praktik rekayasa keuangan di sejumlah BUMN. Dampaknya, beberapa perusahaan harus melakukan penurunan nilai aset atau impairment hingga ratusan triliun rupiah, termasuk yang dialami oleh PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom).

Mengapa Danantara Tak Langsung Pamer Angka?

Tahun pertama Danantara memang lebih banyak dihabiskan untuk "membersihkan rumah". Alih-alih langsung membagikan dividen atau menggelar ekspansi besar-besaran, superholding ini harus berhadapan dengan realitas neraca keuangan BUMN yang banyak tertimbun utang dan aset tidak produktif.

Kajian The Asian Post Research bertajuk Rating 160 BUMN 2026 mengungkapkan fakta mengejutkan: mayoritas perusahaan BUMN memiliki rasio utang terhadap aset di atas 60 persen. Hanya 22 perusahaan yang tercatat memiliki DAR di bawah 50 persen, sebuah rasio yang dianggap sehat secara solvabilitas.

Lebih lanjut, dari total 160 perusahaan yang diukur—terdiri dari 68 BUMN, 88 anak usaha BUMN, dan beberapa perusahaan pelat merah di bawah Kemenkeu—hanya 22 BUMN, 34 anak usaha, dan 2 perusahaan Kemenkeu yang meraih predikat "Sangat Bagus". Sisanya masih bergelut dengan masalah arus kas dan aset yang tidak menghasilkan pendapatan.

BUMN Karya: Sumber Kerugian Terbesar

Kerugian Rp25,12 triliun yang membebani 23 BUMN sebagian besar disumbang oleh perusahaan-perusahaan konstruksi pelat merah. Lima perusahaan karya mencatatkan kerugian fantastis dengan tingkat solvabilitas yang sangat lemah:

  • Waskita Karya merugi Rp4,48 triliun dengan DAR 94,81 persen
  • Wijaya Karya merugi Rp10,13 triliun dengan DAR 96,64 persen
  • Pembangunan Perumahan merugi Rp7,99 triliun dengan DAR 89,98 persen
  • Adhi Karya merugi Rp5,59 triliun dengan DAR 88,55 persen
  • Perum Perumnas merugi Rp371 miliar dengan DAR 86,51 persen

Angka DAR di atas 85 persen menandakan hampir seluruh aset perusahaan dibiayai oleh utang. Ini berarti beban bunga dan cicilan pokok terus menggerus kas setiap tahunnya, transparan yang menyulitkan perusahaan untuk bangkit.

Mimpi Kelas Dunia vs Realitas di Lapangan

Presiden Prabowo Subianto yakin Danantara bisa menjadi solusi strategis untuk mengoptimalkan kinerja BUMN agar mampu bertransformasi menjadi pemimpin kelas dunia. Namun, mimpi tersebut masih jauh dari kenyataan ketika banyak perusahaan pelat merah justru berjibaku dengan utang jumbo dan laporan audit yang bermasalah.

Pertanyaan yang kini mengemuka di kalangan pengamat: apakah Danantara akan bertindak sebagai investor aktif yang berani melakukan suntikan modal, atau justru menjadi penjaga gawang yang memaksa BUMN mandiri? Hingga laporan keuangan tahunan resmi dirilis, publik hanya bisa menunggu bukti nyata transformasi yang dijanjikan.

Di bawah bayang-bayang patung megah Danantara, BUMN Indonesia masih berdiri di persimpangan: menjadi pemain pasar yang kompetitif, atau tetap terikat sebagai alat kebijakan negara. Jawabannya menentukan akan dibawa ke mana arah ekonomi Indonesia ke depan.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: infobanknews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top