PALEMBANG — Delapan tahun beroperasi, LRT Sumatera Selatan masih menghadapi ujian yang tidak kalah berat dari masa konstruksinya. Infrastruktur megah telah berdiri, feeder beroperasi, dan subsidi digelontorkan, tetapi pertanyaan krusial yang kini mengemuka adalah apakah sistem ini sudah cukup menarik untuk mengubah cara masyarakat Palembang bergerak dari rumah menuju kantor, sekolah, hingga pusat perbelanjaan.
Data terbaru menunjukkan basis permintaan yang nyata. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat LRT melayani sekitar 400.949 penumpang pada Juli 2025 dan meningkat menjadi 403.889 penumpang pada Oktober 2025. Angka ini membuktikan warga tidak antipati pada kereta ringan tersebut.
Kendati begitu, data bulanan justru menceritakan kisah yang lebih kompleks. Pada Februari 2025, jumlah penumpang LRT tercatat 328.361 orang atau turun 16,32 persen dibandingkan Januari. Fluktuasi ini menjadi sinyal bahwa minat masyarakat terhadap angkutan umum masih sangat sensitif terhadap kualitas jaringan dan kemudahan integrasi antarmoda.
Pemerintah Kota Palembang pun pada Juni 2025 sempat mengakui adanya kecenderungan penurunan minat masyarakat terhadap sebagian moda transportasi umum. Menariknya, di saat yang sama, penggunaan feeder LRT yang digratiskan justru disebut cukup tinggi.
Fenomena ini menunjukkan Palembang sejatinya tidak kekurangan infrastruktur. Kota ini justru menghadapi persoalan yang lebih mendasar: bagaimana mengubah infrastruktur menjadi kebiasaan perjalanan yang mendarah daging.
Kesalahan terbesar dalam menilai keberhasilan LRT adalah memperlakukannya sebagai moda yang berdiri sendiri. Masyarakat tidak membutuhkan LRT semata-mata karena teknologinya. Mereka membutuhkan kepastian perjalanan dari rumah menuju kantor, kampus, pasar, rumah sakit, atau bandara dengan mudah dan tepat waktu.
Oleh karena itu, LRT semestinya ditempatkan sebagai backbone atau tulang punggung, bukan keseluruhan sistem transportasi. Struktur ideal transportasi Palembang seharusnya sederhana: LRT sebagai tulang punggung, bus dan BRT sebagai jaringan utama penghubung antarkawasan, feeder sebagai jaringan kapiler menuju permukiman, serta jalur pedestrian dan moda mikro sebagai penghubung jarak pendek pertama dan terakhir.
Selama jembatan penghubung antarmoda ini belum sempurna, selama itu pula warga Palembang akan memilih kendaraan pribadi yang menawarkan fleksibilitas dari pintu ke pintu. Transformasi mobilitas tidak akan tercapai hanya dengan menghadirkan kereta modern, melainkan dengan membangun ekosistem perjalanan yang utuh dan nyaman bagi penggunanya.