Colorado Sahkan Aturan Baru, Wajibkan Produsen Mobil Listrik Kelola Baterai Bekas

Penulis: Ahmad Syukri  •  Kamis, 23 Juli 2026 | 08:55:01 WIB
Produsen mobil listrik di Colorado wajib mengelola sendiri baterai bekas kendaraannya berdasarkan aturan baru yang disahkan pada Juni 2025.

SUMATERA SELATAN — Colorado resmi menjadi negara bagian AS pertama yang menerapkan aturan ketat soal daur ulang baterai kendaraan listrik. Lewat undang-undang SB26-003 yang diteken pada Juni 2025, produsen mobil kini wajib mengumpulkan dan memproses sendiri baterai bekas yang sudah tidak terpakai. Aturan ini juga melarang tempat pembuangan akhir (TPA) menerima baterai EV mulai Juli 2029.

Mengapa Aturan Ini Mendesak?

Masalah baterai bekas EV bukan isapan jempol. Baterai berisi material berharga seperti lithium, nikel, dan kobalt yang sebenarnya bisa didaur ulang. Namun ukurannya sangat besar dan berat—ada yang mencapai 450 kg—sehingga ongkos kirim ke pabrik daur ulang bisa mencapai ribuan dolar per unit.

Bisnis daur ulang skala kecil paling terkena dampak. "Kamu harus melakukan sesuatu dengan baterai-baterai ini," ujar Norman Wright, pemilik Stadium Auto Parts di Commerce City, Colorado, kepada CPR News. "Kalau tidak bisa dipakai ulang atau diperbaiki, baterai itu berakhir di sini. Lalu kami harus bagaimana?"

Di Colorado sendiri sudah ada lebih dari 200.000 unit EV yang beroperasi. Angka ini akan terus bertambah, dan tanpa sistem pengelolaan yang jelas, baterai bekas berpotensi menumpuk di tempat penyimpanan atau bahkan dibuang sembarangan.

Target Daur Ulang Paling Ambisius di AS

Beberapa negara bagian lain seperti New Jersey memang sudah punya aturan soal baterai bekas. Namun Colorado melangkah lebih jauh dengan menetapkan target pemulihan mineral yang spesifik dan terukur. Mulai 2031, pabrik daur ulang di Colorado wajib memulihkan setidaknya 90 persen kobalt dan nikel, plus 50 persen lithium dari setiap baterai. Target lithium ini naik menjadi 80 persen pada 2035.

Target ini krusial. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan daur ulang baterai bisa memenuhi 20-30 persen kebutuhan lithium, nikel, dan kobalt global pada 2050. Semakin banyak material yang dipulihkan, semakin sedikit kebutuhan tambang baru dan rantai pasok pun lebih bersih.

Produsen Jadi Pihak yang Bertanggung Jawab

Inti dari aturan ini adalah prinsip producer responsibility—produsen yang membuat produk harus bertanggung jawab sampai produk itu habis masa pakainya. Jika baterai EV berakhir di tempat penampungan mobil bekas atau bengkel, pabrikan mobil wajib memastikan baterai itu dikelola dengan benar.

"Tidak ada peri sampah ajaib," kata Senator Colorado Lisa Cutter, salah satu pengusung RUU ini, kepada NPR. "Kita harus merencanakan hal-hal seperti ini." Pendekatan ini justru mendapat dukungan dari kelompok lingkungan, pendaur ulang mobil, dan bahkan produsen mobil itu sendiri—karena aturannya dinilai lebih realistis dibanding model Uni Eropa yang lebih ketat.

Apa Dampaknya bagi Konsumen?

Bagi pemilik EV, aturan ini jadi jaring pengaman. Selama ini pemilik atau bengkel kecil sering bingung harus ke mana kalau baterai mobil listrik sudah tidak layak pakai. Mulai 2029, jawabannya jelas: produsen yang harus urus.

Memang, aturan ini tidak otomatis membuat setiap baterai bekas jadi bernilai ekonomis atau menghilangkan repotnya logistik daur ulang. Tapi setidaknya ada kepastian: kalau baterai EV sudah tidak punya tempat tujuan, tanggung jawab ada di tangan pembuatnya. Dan itu langkah awal yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top