SUMATERA SELATAN — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka angkat bicara soal video dugaan perundungan terhadap korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dua korban asal Kabupaten Karo yang sempat disebut mengalami gangguan ingatan kini sudah kembali ke rumah dan bersiap masuk sekolah lagi.
Gibran menegaskan, ruang publik semestinya menjadi tempat yang aman dan ramah, terutama bagi anak-anak. Menurutnya, anak-anak yang sedang dalam masa pemulihan justru harus dilindungi, bukan dijadikan bahan candaan.
Melalui unggahan di akun Instagram @gibran_rakabuming, Gibran menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap oknum pegawai SPPG yang mengejek korban. Ia mengingatkan agar kejadian serupa tidak terulang.
"Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Mari kita bersama menjaga ruang publik yang aman dan ramah bagi semua. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan," kata Gibran, dikutip dari unggahannya.
Dalam unggahan yang sama, Gibran juga memperbarui kondisi dua korban asal Kabupaten Karo. Keduanya sebelumnya menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi MBG.
Kedua korban sempat disebut mengalami gangguan ingatan. Setelah mendapat perawatan intensif di RSCM, kondisi keduanya berangsur membaik dan kini telah diperbolehkan pulang.
"Saat ini telah kembali ke rumah masing-masing di Kab. Karo dan akan masuk sekolah kembali," ujar Gibran.
Sebelumnya, sebuah video yang memperlihatkan seorang pria diduga pegawai SPPG mengejek korban keracunan MBG sempat viral di media sosial. Dalam video itu, pria tersebut mengaitkan kondisi gangguan ingatan korban dengan makanan MBG.
Ia melontarkan pernyataan bernada candaan sambil tertawa. "BTW gua makan chicken katsu masakan kemarin, apakah masih enak? Oh tidak, ingatanku hilang 70 persen," ucap pria tersebut dalam video yang dikutip dari unggahan Instagram Gibran.
Sebelum menyoroti video tersebut, Gibran lebih dulu menemui keluarga korban. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang menimpa para korban.
Gibran juga memastikan proses pemulihan kedua anak tersebut menjadi perhatian. Ia berharap mereka bisa segera kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa program MBG menyentuh langsung kehidupan anak-anak. Perlindungan dan empati terhadap korban harus jadi prioritas, bukan bahan lelucon di ruang publik.