SUMATERA SELATAN — Pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 yang berlangsung 11 hari di Tangerang Selatan menyajikan data menarik: dominasi pabrikan China di posisi runner-up, sekaligus sinyal pergeseran preferensi konsumen Indonesia. Data hingga Sabtu (22/8) menunjukkan total penjualan tiga merek China terlaris (BYD, Chery, Wuling) mencapai 10.790 unit, hanya unggul tipis 67 unit dibanding tiga merek Jepang teratas (Toyota, Mitsubishi, Suzuki) yang meraih 10.723 SPK.
Kontributor terbesar penjualan Toyota masih berasal dari keluarga Innova dengan total 2.221 unit, atau sekitar 36 persen dari total penjualan Toyota. Angka ini menunjukkan preferensi kuat konsumen Indonesia pada MPV, segmen yang selama ini menjadi lumbung penjualan pabrikan Jepang.
Di sisi lain, BYD mencatatkan 4.000 SPK dengan model M6 DM menyumbang 20 persen dari total penjualan. Capaian ini signifikan karena BYD baru serius bermain di pasar Indonesia beberapa tahun terakhir, sementara Toyota sudah membangun kepercayaan konsumen selama puluhan tahun.
Dari 15 merek dengan penjualan terbanyak, Jepang hanya menempatkan lima nama: Toyota, Mitsubishi, Suzuki, Isuzu, dan Daihatsu. Sisanya diisi merek China seperti Chery (3.500 SPK), Wuling (3.290 SPK), Geely (3.033 SPK), GAC AION (2.170 SPK), hingga Changan (1.120 SPK).
Mitsubishi yang berada di posisi kelima mencatat 3.212 SPK, masih di bawah tiga merek China sekaligus. Sementara Suzuki dan Isuzu masing-masing meraih 1.336 SPK dan 1.180 SPK — angka yang jauh tertinggal dari para pesaing China di papan atas.
Daihatsu hanya mencatat 591 SPK sepanjang pameran, posisi yang memprihatinkan untuk merek yang selama ini menjadi pemain utama di segmen LCGC dan MPV. Angka ini bahkan lebih rendah dari DFSK (625 SPK) yang notabene merek China dengan pangsa pasar kecil.
Honda belum mengumumkan angka resmi hingga artikel ini ditulis. Namun, pabrikan berlogo "H" tersebut mengklaim model Super One-nya sold out dalam hitungan jam — indikasi bahwa produk tertentu masih diminati, meski data agregat belum bisa diverifikasi.
Pertama, selisih tipis antara blok China dan Jepang menunjukkan persaingan yang sehat, bukan dominasi mutlak. Kedua, keberhasilan BYD, Chery, dan Wuling di GIIAS 2026 tidak lepas dari strategi harga agresif dan elektrifikasi — segmen yang masih minim pemain Jepang di kelas harga terjangkau.
Ketiga, konsumen Indonesia kini punya lebih banyak pilihan di segmen yang sama. Jika dulu MPV identik dengan Toyota atau Mitsubishi, kini ada opsi dari merek China dengan fitur lebih lengkap dan harga bersaing. Ini kabar baik untuk konsumen, tapi sinyal peringatan untuk pabrikan Jepang yang harus bekerja lebih keras mempertahankan loyalitas.
Angka SPK (Surat Pemesanan Kendaraan) ini masih bisa berubah karena pameran berlanjut hingga penutupan. Namun, pola yang terlihat sudah cukup jelas: pertarungan sesungguhnya baru dimulai, dan konsumen Indonesia menjadi penentu siapa yang akan memimpin pasar otomotif nasional ke depan.