BANYUASIN — Upacara peringatan kemerdekaan di lapangan Desa Karang Anyar nyaris kehilangan momen sakralnya. Tali pengerek bendera yang keluar dari rel membuat Sang Merah Putih tak bisa dinaikkan ke puncak tiang, memicu kepanikan singkat di antara peserta upacara.
Sejumlah warga sempat mencoba mencari solusi. Salah satunya, seorang pria bernama Ngadiman, berniat memanjat tiang, tetapi urung dilakukan karena risiko tiang patah menahan beban tubuhnya yang dewasa.
Di tengah kebuntuan, Rizki, seorang remaja desa setempat, mengambil inisiatif untuk memanjat. Keputusan itu diambil setelah warga lain berjaga dan menahan tiang dari bawah demi memastikan keamanannya.
"Ada yang pertama berupaya naik namanya Ngadiman. Karena bobot tubuhnya berat dan memang sudah dewasa, saat naik ditakutkan membuat tiang bendera patah sehingga dibatalkan. Ada Rizki yang memang masih remaja, memutuskan memanjat tiang bendera agar bisa memperbaiki tali yang keluar dari relnya," kata Kepala Desa Karang Anyar, Sukoco, Selasa (19/8/2026).
Gerakannya diikuti pandangan seluruh peserta upacara. Setibanya di puncak, Rizki berhasil mengembalikan tali ke relnya sebelum turun kembali dengan selamat. Prosesi pengibaran bendera pun langsung dilanjutkan dan berjalan khidmat hingga selesai.
Sukoco mengaku bangga dengan aksi spontan warganya. Menurutnya, kejadian teknis seperti ini memang sulit diprediksi meski persiapan upacara telah dilakukan maksimal.
"Saya sangat mengapresiasi bentuk dari warga yang memanjat tiang bendera demi berkibarnya Sang Merah Putih. Ini juga bentuk kecintaan warga saya dan rasa nasionalisme agar Merah Putih tetap bisa berkibar meski sempat ada insiden," ujarnya.
Semarak kemerdekaan di desa yang berada di pesisir Banyuasin itu tidak berhenti pada upacara. Pemerintah desa turut menggelar perlombaan rakyat serta turnamen sepak bola dan voli yang selalu mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.
Sukoco menambahkan, meski anggaran desa mengalami efisiensi, pembangunan tetap berjalan. Pihaknya berupaya mengoptimalkan Pendapatan Asli Desa (PADes) dan dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
"Bisa tetap membangun dengan menggunakan PADes dan CSR perusahaan. Memang kurang maksimal, tetapi progresnya tetap ada untuk pembangunan di desa. Dengan dana yang ada, pembangunan desa tetap dijalankan sesuai aturan. Saya tetap berkeinginan untuk memajukan desa," pungkasnya.