PALEMBANG — Anggota Badan Supervisi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Dr. Eko Kusnadi, menyoroti kerentanan petani terhadap praktik pinjaman online ilegal di era digital. Hal itu ia sampaikan di hadapan para peserta dalam acara Ngaji Pertanian yang berlangsung di Palembang pada Sabtu (25/7).
Menurutnya, kemudahan akses finansial digital saat ini membawa risiko utang sejak usia muda. Ia mencontohkan, maraknya transaksi cashless, e-commerce, dan iklan konsumtif di media sosial kerap memicu gaya hidup tidak sehat secara finansial.
Dr. Eko Kusnadi memaparkan sejumlah modus operandi yang kerap digunakan pinjol ilegal untuk menjerat korbannya. Mulai dari iklan yang menarik di media sosial, permintaan akses data pribadi secara berlebihan, hingga penerapan bunga dan biaya tersembunyi yang mencekik.
Ia memberikan ilustrasi konkret mengenai praktik tersebut. "Pinjaman Rp1 juta hanya diterima Rp700 ribu dengan total pembayaran mencapai Rp1,8 juta," ujarnya di hadapan para peserta.
Eko menegaskan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memblokir lebih dari 9.000 pinjol ilegal pada 2025. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa modus baru terus bermunculan, sehingga kewaspadaan petani harus terus ditingkatkan.
“Per 2025, OJK telah memblokir lebih dari 9.000 pinjol ilegal. Namun modus baru terus bermunculan. Petani harus waspada,” tegasnya.
Dalam paparannya, Eko juga menjelaskan sistem perlindungan keuangan Indonesia yang melibatkan tiga lembaga utama. Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai rupiah, OJK mengawasi lembaga jasa keuangan, dan LPS menjamin simpanan nasabah di bank resmi hingga Rp2 miliar.
Ia menekankan bahwa LPS tidak menjamin simpanan pada pinjaman online atau fintech ilegal. Karena itu, masyarakat diimbau untuk menabung di bank resmi yang terdaftar di OJK dan dijamin LPS.
Eko Kusnadi, yang juga dosen tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Satya Negara Palembang sejak 2016, memberikan sejumlah tips perlindungan diri. Tips ini penting bagi petani yang kerap menjadi sasaran empuk pinjol ilegal.
“Masa depan finansial dimulai dari hari ini. Petani yang bijak bukan yang paling banyak uangnya, tetapi yang paling bijak mengelolanya. Jauhi pinjol ilegal, kelola uang dengan disiplin, dan bangun masa depan finansial yang sehat,” pesannya menutup sesi edukasi.
Kegiatan Ngaji Pertanian ini merupakan salah satu upaya meningkatkan literasi keuangan di kalangan petani yang dinilai rentan terhadap praktik keuangan berisiko tinggi.