Paparan Timbal pada Anak Indonesia Capai 14,6 Persen, BRIN Ungkap Dampaknya pada Kecerdasan

Penulis: Ahmad Syukri  •  Jumat, 31 Juli 2026 | 08:28:31 WIB
Peneliti BRIN menunjukkan sampel darah anak yang diuji dalam studi paparan timbal di Sumatera Selatan.

SUMATERA SELATAN — Sebuah penelitian kolaboratif yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Fitra dan Vital Strategies pada 2025 memberikan temuan yang patut menjadi perhatian orang tua. Dari sampel darah anak-anak yang diteliti, sebanyak 14,6 persen di antaranya memiliki kadar timbal pada level yang memerlukan intervensi serius.

"Paparan timbal dapat mengganggu tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan kognitif dan tingkat kecerdasan," jelas Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Tities Puspita, dikutip dari Media Indonesia, Kamis (30/7/2026).

Dari Mana Sumber Timbal di Sekitar Anak?

Timbal tidak melayang begitu saja. Peneliti mengambil sampel darah anak sekaligus memeriksa komponen lingkungan rumah mereka — seperti debu, tanah, dan partikel yang menempel pada pakaian. Tujuannya jelas: mencari hubungan antara kondisi tempat tinggal dengan kadar timbal dalam tubuh si kecil.

Pendekatan ini penting karena sumber paparan seringkali tidak terlihat. Cat tembok lama, asap kendaraan, atau bahkan peralatan rumah tangga tertentu bisa menjadi sumber timbal yang diam-diam memengaruhi kesehatan anak.

Dampak pada Otak Anak yang Tidak Bisa Disepelekan

Timbal adalah neurotoksin, artinya zat ini langsung menyerang sistem saraf. Pada anak yang sedang dalam masa pertumbuhan pesat, paparan timbal bisa menurunkan IQ, menghambat kemampuan belajar, dan memicu masalah perilaku. Semakin tinggi kadar timbal dalam darah, semakin besar risikonya terhadap perkembangan otak.

BRIN menegaskan bahwa pemahaman terhadap sumber paparan adalah kunci utama. Tanpa mengetahui dari mana timbal berasal, upaya pencegahan hanya akan berjalan di tempat.

Langkah Nyata yang Sudah dan Bisa Ibu Lakukan

Sebagai tindak lanjut, BRIN melibatkan tenaga puskesmas untuk memberikan edukasi langsung ke masyarakat. Orang tua dari anak-anak yang menjadi responden penelitian juga mendapatkan konseling tentang hasil pemeriksaan laboratorium dan langkah-langkah mengurangi risiko paparan di rumah.

Di rumah, Ibu bisa mulai dengan rutin membersihkan debu menggunakan kain basah (bukan kering), mencuci tangan anak setelah bermain di luar, dan memastikan cat dinding rumah tidak terkelupas. Jika rumah Ibu masih menggunakan cat berbasis timbal (biasanya cat lawas), pertimbangkan untuk mengecat ulang dengan cat bebas timbal.

Penelitian Tak Berhenti di Kertas, Harus Jadi Kebijakan

Tities menegaskan bahwa hasil riset ini tidak boleh hanya berakhir sebagai publikasi ilmiah. "Harus diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan pemerintah pusat maupun daerah," ujarnya. BRIN pun terus memperkuat kolaborasi dengan pemangku kepentingan agar hasil riset benar-benar diadopsi dalam program kesehatan masyarakat.

Evaluasi terhadap pelatihan tenaga kesehatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan. Namun, sebagian besar penelitian masih menggunakan desain cross-sectional, sehingga efektivitas perubahan perilaku masyarakat dalam jangka panjang masih perlu dikaji lebih lanjut melalui penelitian longitudinal.

Paparan timbal adalah ancaman senyap yang dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian. Semakin cepat Ibu mengenali sumbernya dan mengambil langkah pencegahan, semakin besar peluang anak tumbuh dengan kecerdasan optimal tanpa gangguan logam berat.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: metrotvnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top