SUMATERA SELATAN — Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) memproyeksikan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia bisa menyentuh 16,2 juta orang pada 2026, mendekati level sebelum pandemi COVID-19. Proyeksi itu disampaikan dalam konferensi pers Rapimnas GIPI di Jakarta, Rabu (14/10/2026). Angka tersebut bertumpu pada pertumbuhan kunjungan Januari-Agustus 2026 yang sudah mencapai 10,58 juta atau naik 5,38% dibanding periode sama 2025.
Ketua GIPI Hariyadi Sukamdani menyebut proyeksi 16,2 juta kunjungan hanya bisa terwujud jika tren pertumbuhan bulanan 5,38% bertahan hingga Desember. Angka itu belum menjadi realisasi, melainkan skenario jika laju kunjungan tidak melambat. Sebagai pembanding, kunjungan wisman pada 2019 tercatat 16,11 juta orang.
Peluang di Tengah Pelemahan Rupiah
Hariyadi menilai depresiasi nilai tukar rupiah justru membuat produk wisata Indonesia lebih kompetitif di mata wisatawan asing. Harga paket liburan, akomodasi, dan kuliner dinilai lebih menarik dibanding destinasi lain di kawasan.
"Nilai rupiah yang terdepresiasi menjadikan pariwisata Indonesia tuh sebetulnya menjadi lebih kompetitif. Dan bisa menarik wisatawan mancanegara untuk berlibur di Indonesia, karena harganya lebih kompetitif," jelas Hariyadi dalam konferensi pers bertema "Soliditas GIPI Membangun Pariwisata Nasional di Tengah Dinamika Geopolitik Dunia".
Destinasi dan Rute Langsung Jadi Modal
Selain faktor harga, GIPI menyoroti bertambahnya destinasi wisata dan tumbuhnya industri kreatif di berbagai daerah sebagai daya tarik tambahan. Rute penerbangan langsung dari sejumlah negara ke Indonesia juga dinilai mempermudah wisatawan menjangkau lokasi.
Bagi traveler yang merencanakan liburan ke Indonesia, kombinasi ini berarti pilihan penerbangan makin banyak dan waktu tempuh dari bandara asal kian singkat. Destinasi di luar Bali dan Jakarta pun mulai terhubung lebih baik.
Evaluasi: Dana Promosi Dinilai Kurang
Di tengah tren positif, Hariyadi memberi catatan soal promosi pariwisata yang dinilai belum mendapat porsi besar dari pemerintah. Menurutnya, promosi tidak bisa hanya dibebankan ke pelaku swasta.
"Evaluasi kita dana promosinya kurang. Nah kalau kita mau mendorong (pertumbuhan pariwisata), dana promosi itu memang harus disiapkan, tidak mungkin itu hanya dilakukan oleh pelaku pariwisata swasta. Karena namanya promosi pariwisata itu selalu harus dilakukan oleh negara," terangnya.
Catatan ini relevan bagi wisatawan yang selama ini mengandalkan informasi destinasi dari kanal resmi. Tanpa promosi yang memadai, sejumlah daerah berpotensi kurang dikenal meski akses dan fasilitasnya sudah membaik.
Yang Perlu Dicermati Traveler
Angka 16,2 juta masih bersifat proyeksi, bukan capaian final. Realisasi kunjungan sepanjang 2026 baru akan diketahui setelah data Desember dirilis. Traveler yang berencana ke Indonesia pada periode liburan akhir tahun sebaiknya memantau perkembangan ini karena lonjakan kunjungan biasanya berdampak pada harga tiket dan kamar hotel.
Jika tren berlanjut, destinasi populer seperti Bali, Yogyakarta, dan Labuan Bajo berpotensi lebih ramai dibanding tahun sebelumnya. Memesan akomodasi dan tiket lebih awal menjadi langkah praktis untuk mengunci harga sebelum permintaan naik.