Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyalurkan bantuan benih jagung hibrida dan sarana prasarana kepada petani untuk mendongkrak produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Produksi kumulatif jagung pipilan kering Sumsel hingga 2026 tercatat sekitar 140 ribu ton dengan kadar air 14 persen, naik sekitar 7.000 ton dibanding tahun sebelumnya. Wakil Gubernur Cik Ujang menyatakan program bantuan akan dilanjutkan karena dinilai berjalan baik.
PALEMBANG — Wakil Gubernur Sumatera Selatan Cik Ujang memastikan bantuan benih jagung hibrida dan sarana prasarana pertanian terus disalurkan ke petani di provinsi tersebut. Bantuan itu menyasar kebun jagung seluas 18.906 hektare yang tersebar di sejumlah kabupaten.
Dari luas tanam itu, produktivitas rata-rata mencapai 66,06 kuintal per hektare. Angka tersebut menjadi dasar pemprov melanjutkan program yang dinilai berjalan baik selama ini.
Produksi Naik 7.000 Ton dari Tahun Sebelumnya
Data Dinas Pertanian Sumsel mencatat produksi kumulatif jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen hingga 2026 mencapai sekitar 140 ribu ton. Capaian itu meningkat sekitar 7.000 ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara untuk jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen, produksi mencapai 170 ribu ton. Selisih kadar air ini menentukan kualitas dan harga jual jagung di tingkat pedagang.
Cik Ujang menyebut peningkatan produksi yang cukup tinggi menjadi alasan pihaknya tidak menghentikan program bantuan. "Untuk menaikkan produksi jagung, kami terus berupaya memberikan bantuan kepada petani berupa benih jagung hibrida dan sarana prasarana lainnya," kata Wagub saat ditemui di Palembang, Kamis.
Bantuan Benih Hibrida Jadi Andalan Petani
Benih jagung hibrida dipilih karena dikenal memiliki daya hasil lebih tinggi dibanding varietas lokal. Selain benih, pemprov menyalurkan sarana prasarana lain yang dibutuhkan petani di lapangan.
Dengan bantuan tersebut, Wagub berharap produksi jagung Sumsel mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Harapan itu sejalan dengan target penguatan ketahanan pangan nasional yang menempatkan Sumsel sebagai salah satu lumbung jagung.
Pemprov juga menggandeng petani, kelompok tani, dan pemerintah daerah dalam menjalankan program ini. Kolaborasi lintas pihak dianggap kunci agar hasil panen stabil dari musim ke musim.
Gerakan Sumsel Mandiri Pangan Jadi Payung Program
Seluruh upaya peningkatan produksi jagung berada di bawah payung Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). Program ini tidak hanya menyasar jagung, tetapi juga komoditas lain yang menopang kebutuhan pangan warga Sumsel.
"Kami akan terus membantu dan bekerja sama dengan petani, kelompok tani, serta pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi jagung dan komoditas lainnya guna menyukseskan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP)," jelas Wagub Cik Ujang.
Bagi petani di sejumlah daerah Sumsel, bantuan benih dan sarana prasarana menjadi penopang biaya produksi yang cukup berat. Kelompok tani berharap penyaluran berjalan tepat waktu agar bisa disesuaikan dengan musim tanam berikutnya.