SUMATERA SELATAN — Periklindo mengusulkan skema insentif otomotif berbasis emisi gas buang agar bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya pengguna mobil listrik. Usulan ini disampaikan Wakil Ketua Umum Periklindo Achmad Rofiqi dalam Evolution Forum CNN Indonesia. Semakin rendah emisi kendaraan, semakin besar insentif yang berhak didapat konsumen.
Persatuan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) menilai insentif otomotif yang berlaku saat ini terlalu eksklusif karena hanya menyasar kendaraan listrik. Melalui skema berbasis emisi gas buang, organisasi industri itu ingin memperluas cakupan penerima insentif ke teknologi ramah lingkungan lain, termasuk bahan bakar nabati.
Insentif Ditakar dari Tingkat Emisi Gas Buang
Wakil Ketua Umum Periklindo Achmad Rofiqi menjelaskan, besaran insentif akan ditentukan oleh seberapa rendah emisi gas buang yang dihasilkan suatu kendaraan. Kendaraan dengan emisi paling rendah berhak atas insentif paling besar.
Dengan cara itu, dukungan pemerintah tidak lagi terbatas pada satu jenis teknologi. Rofiqi menyebut skema ini sebagai langkah inklusif untuk mempercepat penekanan polusi dari sektor transportasi.
B50 hingga Bahan Bakar Nabati Masuk Cakupan
Rofiqi mencontohkan bahan bakar nabati seperti B50 yang memiliki emisi gas buang lebih rendah karena kandungan nabatinya. Menurut dia, teknologi semacam ini semestinya juga bisa mengakses insentif pemerintah.
"Semakin rendah emisi gas buangnya, semakin tinggi insentifnya. Ini hal ini termasuk mungkin B50, mungkin dengan emisi gas buang yang lebih rendah karena memakai bahan nabati," ujarnya.
Usulan tersebut menempatkan pengurangan emisi sebagai ukuran utama, bukan jenis kendaraan. Artinya, kendaraan berbahan bakar fosil yang emisinya rendah pun berpeluang mendapat insentif yang sama.
Regulasi 3-5 Tahun untuk Kepastian Investor
Periklindo juga mendorong pemerintah menyiapkan kepastian regulasi jangka menengah hingga panjang. Rofiqi meminta pemerintah pusat dan daerah mengharmonisasikan kebijakan untuk kurun waktu minimal 3 sampai 5 tahun ke depan.
Kepastian itu dinilai penting bagi investor yang menanam modal di sektor otomotif maupun bagi konsumen yang hendak menentukan pilihan kendaraan.
"Kepastian ini sangat penting bagi investor dan juga bagi sisi konsumen. Jadi bagaimana konsumen juga bisa menentukan pilihannya untuk membeli kendaraan listrik berdasarkan kebijakan yang berlaku," kata Rofiqi.
Dampak ke Pasar Otomotif Nasional
Jika diterapkan, skema insentif berbasis emisi berpotensi mengubah peta persaingan kendaraan di Indonesia. Produsen tidak lagi hanya berlomba menghadirkan model listrik, tetapi juga menekan emisi dari lini kendaraan konvensional dan hybrid mereka.
Periklindo sendiri menaungi sejumlah produsen kendaraan listrik di dalam negeri. Usulan ini menunjukkan organisasi tersebut tidak memandang transisi energi sebagai urusan eksklusif satu teknologi saja.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pemerintah mengenai kemungkinan penerapan skema insentif berbasis emisi gas buang tersebut.