PALEMBANG — Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga pekan ketiga September 2026, kasus influenza A(H3N2) subclade K sudah menyebar di 13 provinsi. Jawa Timur dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak.
Virus ini pertama kali terdeteksi di Indonesia pada Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus subclade K berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS). Dari 843 spesimen positif influenza, sebanyak 348 spesimen telah menjalani pemeriksaan WGS.
Seluruh virus yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan juga ditemukan dalam sirkulasi global. Artinya, subclade K bukan jenis virus yang benar-benar baru bagi populasi manusia.
Apa Itu Influenza A(H3N2) Subclade K?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan subclade K merupakan bagian dari virus influenza musiman A(H3N2) yang mengalami perubahan genetik lalu menyebar di berbagai wilayah dunia. Virus ini sudah beredar pada manusia selama beberapa dekade.
Istilah "super flu" sendiri merupakan sebutan populer untuk menggambarkan infeksi influenza A(H3N2) subclade K. Sebutan itu muncul di tengah derasnya pemberitaan soal virus ini.
Gejalanya menyerupai infeksi saluran pernapasan lain: demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan rasa lelah. Pada sebagian orang, gejala bisa berlangsung lebih lama dan terasa lebih berat.
Kelompok rentan perlu lebih waspada. Anak kecil, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta berisiko mengalami gejala yang lebih berat.