SUMATERA SELATAN — Formasi Durupinar, struktur batu berbentuk kapal di Turki timur dekat Gunung Ararat, mulai dibor oleh ekspedisi Noah's Ark Scans yang meyakini lokasi itu sebagai Bahtera Nuh. Pengeboran menyasar ruang bawah permukaan yang dipetakan radar penembus tanah, termasuk lorong sepanjang 76 meter. Ekspedisi ini berpacu dengan musim dingin yang akan membekukan tanah dan menghentikan operasi hingga tahun depan.
Tim ekspedisi Noah's Ark Scans mengebor formasi Durupinar setelah mendapat persetujuan pemerintah Turki dan pengawasan universitas-universitas setempat. Proyek ini melibatkan sejumlah arkeolog dan ahli geologi, dengan Direktur Proyek Dr. Cenker Atila dari Universitas Sivas Cumhuriyet di Turki.
Direktur pemasaran dan penggalangan dana proyek, Lauren Witzke, mengumumkan dimulainya pengeboran lewat akun Facebook pribadinya. "Selamat pagi dari tepian luar Bahtera Nuh," tulisnya.
Witzke sendiri dikenal kontroversial di dunia politik Amerika Serikat. Mantan kandidat Senat itu terbuka menyatakan diri sebagai penganut teori Bumi datar, pernah mendukung teori konspirasi sayap kanan QAnon, dan menyebut vaksin Covid sebagai konspirasi setan.
Klaim Struktur Bawah Tanah dan Robot Gopher
Dalam beberapa tahun terakhir, lokasi Durupinar kembali diperiksa menggunakan radar penembus tanah. Ekspedisi Noah's Ark Scans mengklaim telah memetakan struktur yang tampak seperti koridor dan ruangan di bawah permukaan, termasuk satu lorong yang membentang lebih dari 76 meter.
Langkah selanjutnya adalah pengeboran inti sempit menuju ruang-ruang tersebut. Tim juga menyiapkan Gopher, robot bawah tanah yang dirancang menjangkau area yang tidak dapat dimasuki manusia.
Gopher dibekali peralatan untuk mengambil rekaman beresolusi tinggi serta sampel tanah dari bawah permukaan. Robot ini dirancang insinyur asal Australia, Dr. Robert Ross dari Universitas La Trobe.
Penyelenggara penggalangan dana menyatakan proyek ini membutuhkan dana USD 600.000 untuk memulai pengeboran. Hingga hari Selasa, dana yang terkumpul baru sebagian kecil dari jumlah tersebut, meski rekaman drone yang dibagikan Witzke tampak menunjukkan kegiatan pengeboran telah dimulai.
Sejarah Panjang Perdebatan Durupinar
Formasi Durupinar pertama kali difoto secara resmi pada 1959 oleh seorang kaptan Angkatan Darat Turki saat memetakan wilayah. Peneliti setempat kemudian melakukan survei, penggalian, hingga peledakan dengan dinamit, tetapi tidak menemukan bukti arkeologis apa pun.
Kesimpulan awal menyebut formasi itu sebagai anomali alami. Ahli geologi modern sepakat, umumnya memandang situs tersebut sebagai pegunungan berbentuk kapal dari batu kapur dan tanah liat vulkanik yang terbentuk akibat erosi.
Situs itu sempat terlupakan hingga 1980-an, ketika pakar penyelamatan asal Amerika, David Fasold, memeriksanya dengan radar penembus tanah. Fasold yakin dirinya melihat sisa-sisa fosil geladak atas sebuah kapal.
Ia mengukur panjang formasi dan mendapati angka 164 meter, mendekati ukuran bahtera 300 hasta atau 157 meter sebagaimana disebutkan dalam Alkitab. Ada pula temuan batu jangkar berukir yang tersebar di sebelah barat laut situs.
Fasold meyakini batu-batu itu adalah jangkar laut kuno yang dilepaskan dari bahtera saat air bah surut. Pihak skeptis berpendapat batu tersebut hanyalah penanda peringatan atau batu nisan kuno.
Bertahun-tahun setelah penelitiannya, Fasold mengubah pandangan dan secara terbuka menolak teori bahtera, menyebutnya omong kosong. Namun rekan sekaligus penulis biografinya dari Australia, June Dawes, bersikeras Fasold meninggal dengan keyakinan telah menemukan bahtera tersebut.
Berpacu dengan Musim Dingin
Ekspedisi tahun ini berpacu dengan waktu sebelum datangnya musim dingin. Suhu beku akan membuat tanah membeku dan memaksa para peneliti menghentikan operasi hingga tahun depan.
Hingga kini, Durupinar masih menjadi salah satu misteri kuno yang paling diperdebatkan. Bagi wisatawan yang tertarik menyaksikan langsung situs ini, informasi terkini soal akses dan kondisi lapangan dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat.