SUMATERA SELATAN — Arda Hatna kembali hadir dengan karya solo yang sarat makna. Lewat single "Matematika Tuhan Berbeda", pelantun hits era 2000-an ini mengajak pendengar merenungkan perjalanan hidup dan ketulusan dalam menghadapi setiap proses.
Lagu ini rencananya meluncur tepat pada Jumat (11/9/2026). Dalam sesi perkenalan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026), Arda mengaku sempat menunda perilisan karena ingin memastikan pesan yang disampaikan benar-benar tulus.
Cerita di Balik Penundaan Rilis dan Proses Kreatif
Arda bercerita, awalnya ia merasa ada dorongan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain lewat lagu ini. Perasaan itu justru membuatnya tidak nyaman dan akhirnya menjadi alasan utama penundaan perilisan.
"Harusnya lagu ini rilis dua bulan lalu, kenapa saya tunda, karena saya percaya niat. Niat waktu itu gue ingin buktiin nih ke orang. Tapi jadinya nggak happy. Saya ingin kenapa sih lagu ini lahir, dan apa sih yang ingin saya sampaikan," jelas Arda.
Inspirasi lagu ini datang secara tak terduga. Sepulang dari sesi hipnoterapi di sebuah klinik, Arda melihat banyak orang yang tengah menunggu konseling. Momen itu meninggalkan kesan mendalam hingga akhirnya melodi dan lirik muncul begitu saja saat ia berada di dalam mobil.
"Kenapa sih banyak orang yang sakit. Di situ ketika saya keluar saya naik mobil, tiba-tiba nada itu ada di sini. Hey orang baik tak ada ruginya dirimu menjadi baik. Itu tiba-tiba muncul," kenang suami Tantri Kotak tersebut.
Momen Sulit yang Membentuk Makna Lagu
Pengalaman pahit di masa lalu turut memperkaya makna "Matematika Tuhan Berbeda". Arda mengingat satu kejadian ketika dirinya menangis dalam perjalanan menuju konser bersama band lamanya. Bukan karena demam panggung, melainkan sepeda motornya bermasalah dan ia tak punya uang untuk memperbaiki.
"Sepanjang jalan saya nangis, sedih. Teman-teman band tanya, kenapa? Saya gak kuat," tuturnya. "Pulang dari situ saya cerita, di situ ada baliho band saya. Itu sold out. Kenapa saya nangis, karena di bawah baliho itu motor saya pernah bocor dan saya nggak punya uang. Di titik itu saya berdoa, ya Allah kalau ini jalannya saya pasrah."
Baginya, kehidupan memiliki perhitungan yang tak selalu bisa dipahami manusia. Setiap orang punya rute dan waktunya sendiri untuk sampai ke tujuan. "Kalau sudah waktunya tidak bisa ada yang halangi. Hari ini sepertinya berjodoh untuk saya kenalkan lagu saya," ucapnya.
Bukan Soal Chart, Melainkan Menemani yang Lelah
Arda tidak membebani "Matematika Tuhan Berbeda" dengan target popularitas atau posisi tangga lagu. Ia justru berharap single ini bisa menjadi teman bagi mereka yang sedang berada di titik terendah kehidupan.
"Saya cuma ingin menemani orang-orang yang sudah lelah," imbuhnya.
Ini bukan kali pertama Arda mengangkat isu yang dekat dengan keseharian. Sebelumnya, ia menulis lagu berjudul "Belajar Jadi Bapak" yang membahas soal peran laki-laki dalam keluarga, termasuk isu fatherless. Ia bahkan meminta izin terlebih dahulu kepada sang istri sebelum menggarap lagu tersebut.
Respons pendengar terhadap karya-karyanya pun kerap datang di luar dugaan. "Waktu lagu ini dirilis, saya cerita idenya. Tiba-tiba ada yang DM seorang polisi dan nanya mas hipnoterapinya di mana. Saya merasa karya yang indah adalah yang menggerakkan. Chart itu penting, tapi bagi saya bukan yang nomor satu," pungkas Arda.
Dengan perilisan "Matematika Tuhan Berbeda", Arda melanjutkan langkah solonya setelah vakum dari industri musik bersama Naff. Lagu ini menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk industri yang kerap mengejar angka, masih ada musisi yang memilih menempatkan ketulusan sebagai prioritas utama.