91 Ribu Balita Indonesia Kena ISPA Akibat Karhutla, Ini yang Perlu Ibu Waspadai

Penulis: Syamsudin Rasyid  •  Kamis, 05 November 2026 | 12:49:31 WIB
Balita menjadi kelompok paling rentan terinfeksi ISPA akibat paparan asap karhutla karena saluran napasnya belum berkembang sempurna.

SUMATERA SELATAN — Sebanyak 91.913 balita di tujuh provinsi terdampak karhutla sudah terinfeksi ISPA, bagian dari 401.586 kasus yang tercatat Kementerian Kesehatan. Bagi ibu dengan anak kecil, paparan asap bukan sekadar kabut pengganggu pandangan — ada tanda bahaya yang wajib dikenali sebelum terlambat.

Angka itu bukan statistik jauh di layar televisi. Balita usia 0-5 tahun jadi kelompok dengan kasus ISPA terbanyak dari total 401.586 penderita yang tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati menyebut penambahan kasus terus terjadi setiap hari di fasilitas pelayanan kesehatan daerah. Data per 2 November 2026 sore menunjukkan tambahan 3.906 kasus baru dalam satu periode pemantauan.

Kenapa Balita Paling Rentan Terkena ISPA

Saluran napas anak usia di bawah lima tahun belum berkembang sempurna. Partikel halus dari asap karhutla jauh lebih mudah masuk dan mengendap di paru-paru kecil mereka dibanding orang dewasa.

Kelompok usia 6-9 tahun menyusul dengan 87.704 kasus, sementara lansia di atas 60 tahun tercatat 56.092 kasus. Sistem imun yang belum matang membuat tubuh balita kesulitan melawan infeksi setelah terpapar asap berhari-hari.

Tanda Bahaya ISPA pada Anak yang Tidak Boleh Diabaikan

Batuk pilek biasa bisa berubah serius kalau napas anak mulai berbunyi atau terlihat cepat. Hitung tarikan napas anak saat tenang — kalau dadanya sampai terlihat cekung ke dalam setiap kali bernapas, itu tanda butuh bantuan medis segera.

Waspadai juga bibir atau ujung jari yang membiru, anak tampak lemas, tidak mau menyusu atau makan, serta demam tinggi yang tidak turun. Segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat, jangan tunggu sampai pagi.

Ibu Hamil dan Kelompok Khusus Juga Terdampak

Kementerian Kesehatan mencatat 590 ibu hamil berisiko mengalami komplikasi kehamilan akibat polusi asap. Ada pula 1.530 penderita asma yang rentan mengalami serangan berulang dan 8.086 pekerja luar ruangan yang setiap hari menghirup udara tercemar.

Kota dengan penduduk terdampak paling besar adalah Banjarbaru di Kalimantan Selatan, Pekanbaru di Riau, dan Pontianak di Kalimantan Barat. Ketiga wilayah ini mencatat konsentrasi kasus tertinggi.

Iritasi Mata: Jangan Digosok, Ini yang Benar

Selain saluran napas, partikel abu sisa pembakaran hutan memicu iritasi mata. Widyawati mengingatkan agar tidak menggosok mata saat terasa perih atau gatal karena bisa memicu infeksi lanjutan.

Bilas mata dengan air bersih yang mengalir, lalu kompres dingin sebentar untuk meredakan rasa perih. Kalau mata tetap merah dan berair lebih dari sehari, periksakan ke dokter.

Lindungi Anak di Rumah Saat Asap Tebal

Tutup jendela dan pintu, nyalakan penyaring udara bila ada, dan batasi anak bermain di luar saat kabut asap pekat. Ganti pakaian anak setelah dari luar ruangan supaya sisa debu tidak menempel di kulit.

Di Provinsi Riau sudah disiapkan sedikitnya 10 rumah oksigen yang bisa diakses warga. Widyawati menegaskan yang terpenting bukan jumlah bangunan, melainkan seberapa cepat dukungan oksigen itu sampai ke pasien yang sesak napas.

Kapan Harus ke Dokter

Kalau anak batuk lebih dari tiga hari disertai napas cepat, sesak, atau sulit makan, jangan ditunda. Bawa segera ke fasilitas kesehatan terdekat, terutama bila anak punya riwayat asma atau alergi saluran napas.

Untuk ibu hamil, konsultasikan ke bidan atau dokter kalau merasakan sesak, pusing berlebihan, atau gerakan janin berkurang selama masa asap tebal.

Melindungi balita dari asap karhutla bukan soal panik, tapi soal sigap mengenali tanda bahaya dan tahu kapan harus mencari bantuan. Simpan informasi ini, dan bagikan ke sesama ibu yang tinggal di wilayah terdampak.

Reporter: Syamsudin Rasyid
Sumber: health.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top