SUMATERA SELATAN — Penjualan mobil LCGC di Indonesia turun 11 persen menjadi 83.997 unit sepanjang Januari-September 2026, melanjutkan tren penurunan tiga tahun terakhir. Gaikindo menyebut pertumbuhan kendaraan listrik sebagai salah satu penyebab utama, sementara harga LCGC yang kini menembus Rp 200 juta membuat daya tarik "low cost" makin pudar.
Data wholesales Gaikindo menunjukkan penurunan LCGC bukan lagi fluktuasi musiman. Sepanjang Januari-September 2026, mobil murah ramah lingkungan ini terdistribusi 83.997 unit — minus 11 persen dibanding periode sama tahun lalu. Angka itu melanjutkan tren yang sudah terlihat sejak 2023.
Kalau ditarik ke belakang, grafiknya menurun konsisten. Pada 2023 LCGC masih terjual 204.705 unit, lalu turun ke 176.766 unit pada 2024, dan 122.686 unit pada 2025. Puncak kejayaan justru terjadi jauh sebelumnya: 235.171 unit pada 2016, saat model 7-seater mulai masuk pasar.
Dengan laju seperti ini, proyeksi setahun penuh 2026 berpotensi berada di bawah 120 ribu unit — level terendah sejak program LCGC diluncurkan.
Ketua Umum Gaikindo Putu Juli mengakui LCGC sempat sukses besar. "Memang LCGC waktu kita launching sekitar tahun 2012-2014 itu cukup berhasil. Itu program pemerintah yang sangat sukses sampai market share-nya mencapai 24% dari total penjualan mobil. Tapi sekarang karena sudah ada teknologi lain yaitu Electric Vehicle (EV), tren kendaraan listrik memang naik. Itulah salah satu penyebab turunnya LCGC dan mobil konvensional lainnya," ujarnya dikutip dari CNBC Indonesia.
Putu melihat pergeseran ini sebagai masa peralihan teknologi, bukan kematian segmen mobil murah. Menurutnya, mobil pertama untuk konsumen baru tidak harus bermesin pembakaran internal. "Jadi sebenarnya ini masa peralihan. Kalau kita mau mempertahankan segmen pembeli mobil pertama (new entry), teknologinya memang harus mengarah ke Electric Vehicle. Jadi mobil murah (LCGC) itu tidak harus ICE (mesin pembakaran internal), bisa saja bentuknya Hybrid atau Plug-in Hybrid, yang penting affordability-nya (keterjangkauannya) tercapai dan harganya murah. Itu sudah kita sampaikan juga," kata Putu.
Masalah mendasar ada di angka di pricelist. LCGC awalnya diposisikan sebagai mobil pertama dengan harga di bawah Rp 150 juta. Sekarang banyak model sudah menembus Rp 180 juta hingga Rp 200 juta ke atas. Regulasi emisi, penambahan fitur, dan biaya produksi ikut mendorong kenaikan itu.
Efeknya langsung terasa di segmen pembeli paling sensitif harga. Pengamat otomotif Yannes Pasaribu menyoroti faktor daya beli. "Penurunan daya beli masyarakat karena inflasi dan suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang mempengaruhi penjualan mobil saat ini. Penurunan daya beli masyarakat karena inflasi dan suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang mempengaruhi penjualan mobil, selain itu, kenaikan harga segmen terbesar LCGC juga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen," ujarnya kepada detikOto.
Klaim bahwa EV sepenuhnya menggantikan LCGC masih perlu diuji. Harga mobil listrik termurah di Indonesia memang sudah menyentuh bawah Rp 200 juta, tapi infrastruktur pengisian daya dan nilai jual kembali belum setara kemudahan LCGC. Konsumen di luar kota besar masih menghadapi keterbatasan yang berbeda dari pembeli di Jabodetabek.
Gaikindo sendiri belum memerinci model hybrid atau PHEV murah mana yang akan mengisi segmen ini, dan berapa harga yang bisa dicapai. Tanpa kepastian itu, penurunan LCGC berisiko berlanjut sebelum penggantinya benar-benar siap di pasar.