MUBA — Polsek Plakat Tinggi menggelar imbauan karhutla langsung ke permukiman warga, bukan sekadar lewat pengumuman. Sasaran kali ini adalah Desa Tanjung Keputran, Kecamatan Plakat Tinggi, Kabupaten Musi Banyuasin.
Dalam kegiatan itu, Bhabinkamtibmas AIPTU Eko Prasetyo bertemu warga dan menekankan bahaya membuka lahan dengan cara dibakar. Polisi juga mengingatkan soal puntung rokok dan sisa pembakaran kecil yang kerap diabaikan.
Kapolsek Plakat Tinggi IPTU M Syazilli menjelaskan, cuaca kering dan angin membuat sisa pembakaran kecil mudah merambat. Puntung rokok yang dibuang sembarangan disebutnya sebagai salah satu pemicu yang sering luput dari perhatian warga.
"Saya minta warga untuk mewaspadai kelalaiannya. Jangan sembarang buang puntuk rokok atau meninggalkan sisa pembakaran," kata Syazilli kepada awak media, Rabu (14/10).
Imbauan itu disampaikan langsung dari rumah ke rumah warga, bukan melalui surat edaran. Polisi menilai cara ini lebih efektif karena warga bisa bertanya langsung soal risiko dan penanganan di lapangan.
Selain soal pembakaran lahan, Syazilli menyampaikan imbauan kesehatan terkait kabut asap. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memakai masker saat terpaksa beraktivitas di luar.
Kabut asap menjadi konsekuensi langsung dari karhutla yang tidak tertangani. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia paling berisiko mengalami gangguan pernapasan saat kualitas udara memburuk.
"Saya minta, kepada masyarakat yang melihat adanya titik api atau asap mencurigakan. Segera lapor ke pemerintah desa, Bhabinkamtibmas, Manggala Agni atau dapat menghubungi Call Center Polisi di nomor 110," tandasnya.
Polisi membuka empat jalur pelaporan bagi warga yang menemukan titik api atau asap mencurigakan. Laporan bisa disampaikan ke pemerintah desa, Bhabinkamtibmas, Manggala Agni, atau Call Center Polisi di nomor 110.
Syazilli menegaskan, imbauan karhutla akan terus disampaikan ke warga di wilayah hukum Polsek Plakat Tinggi. "Terus dan terus kami sampaikan imbauan ke warga. Kami minta warga tidak membuka lahannya dengan cara dibaakar," ujarnya.
Kegiatan rutin ini menyasar desa-desa yang memiliki lahan gambut dan perkebunan, dua jenis area yang paling rawan terbakar saat musim kemarau. Pelaporan cepat dari warga disebut menjadi kunci sebelum api menyebar ke area yang lebih luas.