SUMATERA SELATAN — Marie-Clémentine Dusabejambo membawa Ben'Imana menjadi film pertama Rwanda yang masuk nominasi Oscar setelah sebelumnya menang Camera d'Or di Cannes. Film berlatar 2012 ini menyoroti proses rekonsiliasi warga desa pascagenosida terhadap Tutsi. Dusabejambo mengungkap proses kreatif di balik karya tersebut dalam acara Contenders London.
Marie-Clémentine Dusabejambo menegaskan bahwa Ben'Imana bukan sekadar film tentang masa lalu. Karya ini lahir dari kebutuhan untuk memahami sejarah dari sudut pandang generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa genosida terhadap Tutsi. Dusabejambo sendiri berusia tujuh tahun saat peristiwa itu terjadi.
Dalam sesi Deadline's Contenders London, ia menceritakan perjalanan panjang sebelum akhirnya memutuskan mendalami dunia sinema. Sebelumnya ia menempuh studi matematika dan fisika, lalu beralih ke pembuatan film pendek. Ide Ben'Imana baru muncul setelah film pendek keduanya pada 2013.
Dusabejambo menyebut perpindahan bidang itu sebagai takdir. Menurutnya, gagasan untuk Ben'Imana butuh waktu lama untuk menemukan bentuk yang tepat.
"I think it was my destiny, but it was a film that was still trying to find expression in me. I needed time to understand, to feel, to read, to hear," ujarnya. Ia menambahkan bahwa setiap generasi perlu memahami apa yang terjadi, dari mana mereka berasal, dan keputusan apa yang diambil orang-orang di masanya.
Pendekatan itu membuat Ben'Imana tidak terjebak pada narasi hitam-putih antara korban dan pelaku. Dusabejambo ingin menghadirkan sejarah secara lebih otentik tanpa menghakimi generasi sebelumnya.
Baginya, inti film ini adalah bagaimana kehidupan bisa diputar balik menuju perdamaian. Ia menyebut proses rekonsiliasi sebagai upaya menciptakan masa depan dan bercermin pada komunitas sendiri.
"I wanted to be more authentic to the history, and I also wanted to not judge the people, the generation, that came before us, and what they did. I didn't really want to fall into the stereotype of the victim and the perpetrator," kata Dusabejambo.
Latar cerita Ben'Imana sendiri ditempatkan pada 2012, 18 tahun setelah genosida terhadap Tutsi. Film ini menggambarkan sebuah desa di Rwanda yang warganya bergulat dengan proses rekonsiliasi antara penyintas dan pelaku.
Dusabejambo secara khusus memuji tim dan para pemain yang sebagian besar bukan aktor profesional. Menurutnya, mereka berhasil menghidupkan cerita dengan sangat meyakinkan meski produksi berjalan dengan sumber daya terbatas.
"I love that the film looks like a million dollars, but it didn't cost a million dollars. The million dollars comes from the love and the art and the will of the people who worked with me to tell the story," ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa Ben'Imana 100 persen digarap oleh orang Rwanda. Hal itu membuat elemen fiksi dalam cerita sering kali bertemu dengan realitas para kru yang terhubung langsung dengan kisah tersebut.
Sebelum masuk nominasi Oscar, Ben'Imana menjadi film fitur Rwanda pertama yang diterima dalam seleksi resmi Festival Film Cannes. Di ajang itu, Dusabejambo meraih Camera d'Or, penghargaan untuk sutradara pendatang baru terbaik.
Pencapaian tersebut menjadikan Ben'Imana sebagai tonggak penting bagi perfilman Rwanda. Film ini juga menjadi wakil pertama negara itu dalam kategori Film Internasional Terbaik di Academy Awards.
Bagi industri film Afrika, langkah Dusabejambo menunjukkan bahwa cerita lokal dengan produksi terbatas bisa menembus panggung global. Ben'Imana kini menjadi salah satu judul yang layak diikuti dalam perhelatan Oscar mendatang.