MUARA ENIM — Pemerintah Kabupaten Muara Enim menyiapkan langkah konkret untuk mendukung rantai pasok industri bioetanol nasional. Tiga strategi utama yang akan dijalankan mencakup pemetaan dan penyediaan lahan, peningkatan kapasitas petani, serta percepatan perizinan investasi. Langkah ini merespons penekanan pemerintah pusat soal peran strategis daerah dalam penyediaan bahan baku energi terbarukan.
Data sektor pertanian daerah mencatat angka produksi yang signifikan. Komoditas jagung memiliki total luas lahan 53 hektare dengan realisasi produksi 2.828 ton. Ubi kayu tercatat seluas 351 hektare dengan realisasi produksi mencapai 11.953 ton per tahun.
Pengembangan tebu juga mulai dirintis. Luas panen di Desa Talang Taling, Kecamatan Gelumbang, mencapai 5 hektare dengan estimasi produksi 500 ton. Ketiga komoditas itu menjadi tulang punggung pasokan bahan baku bioetanol dari Muara Enim.
Pemkab Muara Enim akan mengidentifikasi serta mengalokasikan lahan potensial maupun lahan kritis yang tidak produktif melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Lahan-lahan itu akan dimanfaatkan secara optimal untuk penanaman komoditas bahan baku bioetanol.
Selain fokus pada ketersediaan lahan, pemkab memprioritaskan peningkatan kesejahteraan dan produktivitas petani lokal. Bentuk intervensinya berupa pelatihan teknis budidaya, distribusi bantuan bibit unggul, hingga penyediaan pupuk berkualitas.
"Melalui intervensi hulu ini, kualitas hasil panen para petani diharapkan mampu memenuhi standar industri bioetanol secara konsisten dan berkelanjutan ke depannya," harap Sumarni.
Di sektor hilir, Sumarni menegaskan pihaknya berkomitmen memberikan kemudahan serta percepatan proses perizinan berusaha di daerah. Fasilitas itu ditujukan bagi investor yang ingin membangun pabrik pengolahan bioetanol di Muara Enim.
Pemerintah pusat menilai peran pemerintah daerah krusial, terutama dalam memfasilitasi investasi dan penyusunan regulasi lokal. Pasokan bahan baku yang berkelanjutan seperti tebu, singkong, dan jagung menjadi syarat utama agar industri bioetanol nasional bisa berjalan stabil.
"Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, Muara Enim optimistis dapat bertransformasi menjadi salah satu lumbung energi terbarukan yang berkontribusi nyata bagi ketahanan nasional," ujar Sumarni.
Proyeksi ini menempatkan Muara Enim sebagai salah satu kandidat daerah penopang bioetanol di Sumatera Selatan. Keberhasilan program bergantung pada realisasi pemetaan lahan, kesiapan petani, dan masuknya investor pabrik pengolahan di daerah tersebut.