AmaMelodia Telusuri Sungai Magdalena Kolombia, Singgah ke Desa Perajin

Penulis: Rizal Hamdani  •  Sabtu, 19 September 2026 | 15:17:31 WIB

SUMATERA SELATAN — Kapal AmaMelodia membuka rute baru menyusuri Sungai Magdalena dari Cartagena ke Barranquilla, melintasi kota-kota perajin yang puluhan tahun tak dilewati kapal penumpang. Perjalanan ini menghadirkan pengalaman budaya langsung, mulai dari anyaman palem iraca hingga kerajinan filigri perak. Rute perdana AmaWaterways tersebut menawarkan cara berbeda menikmati Kolombia lewat jalur air.

Di kota Usiacurí, sekitar satu jam dari Barranquilla, para perajin palem iraca bekerja setiap hari membuat tas, keranjang, kipas, hingga anting dan kalung. Kota kecil ini menjadi salah satu titik persinggahan opsional dalam pelayaran kapal AmaMelodia milik AmaWaterways, yang menghubungkan Cartagena dan Barranquilla menyusuri Sungai Magdalena. Selama puluhan tahun, tak ada kapal penumpang yang melintasi jalur ini sejak era kapal uap berakhir sekitar 60 tahun lalu.

Rute Baru di Jalur Sungai Bersejarah

AmaMelodia bergerak pelan di atas air sungai yang berwarna cokelat. Kapal berbentuk rendah menyerupai tongkang ini melaju tanpa terburu-buru. Sepanjang perjalanan, satu-satunya kapal penumpang lain yang berpapasan adalah AmaMagdalena, kapal saudaranya.

Jalur ini pernah menjadi latar novel Love in the Time of Cholera karya Gabriel García Márquez, khususnya bab akhir yang berlatar 1930-an. Bab itu menggambarkan kemunduran perjalanan sungai romantis sekaligus komunitas warga Kolombia yang ditinggalkan di tepiannya.

Belajar Anyaman Palem Iraca di Usiacurí

Di sebuah ruangan kuning besar, penumpang duduk di meja lipat mencoba menganyam dua helai palem berwarna biru dan merah. Instruktur bernama Jair Palma, perempuan berskirt panjang, berkeliling membetulkan kesalahan peserta. Ia lalu menggulung hasil anyaman menjadi cincin dan menyelipkannya ke jari pembuatnya.

Di luar bengkel, deretan lapak di bawah naungan pohon menjual aneka kerajinan. Ada kipas untuk cuaca panas, anting gantung warna oranye dan biru navy, serta tas kotak bertali merah. Untuk mengolah palem iraca, perajin merendam helai yang sudah dipotong dan dikeringkan ke air mendidih, lalu menambahkan pigmen bubuk pewarna hingga warna yang diinginkan tercapai. Setelah itu, helai dibilas air dingin dan dijemur. Keranjang dibuat dengan rangka kawat sebagai penopang.

Filigri Perak hingga Musik Cumbia

Di Mompox, kota berstatus UNESCO yang tetap populer di kalangan wisatawan domestik, bengkel-bengkel setempat melestarikan variasi filigri Kolombia. Prosesnya memelintir benang perak dan emas menjadi bentukan seperti renda, lalu ditahan dengan nyala obor. Di meja lain, di bawah langit terbuka halaman beratap hammock, peserta mencoba menyolder liontin berbentuk hati.

Menuju Mompox, penumpang menyaksikan nelayan menebar jaring besar secara serempak, seperti tarian di atas sungai. AmaWaterways bahkan harus membangun jembatan dermaga baru untuk bisa bersandar di Mompox.

Pendiri bersama perusahaan, Rudi Schreiner, awalnya ingin memasukkan El Banco ke itinerary. Kota itu dikenal sebagai pusat musik cumbia, tradisi musik dan tari perkusi Kolombia. Namun rute sungai yang berkelok tajam membuat rencana itu dibatalkan. Sebagai gantinya, sekelompok penampil datang dengan bus dan naik ke kapal membawa drum buatan tangan, yakni tambora bass dua sisi dan tambor alegre yang lebih ramping.

Desa Nelayan Santa Barbara de Pinto

Sebagai pengganti El Banco, salah satu titik yang ditambahkan adalah Santa Barbara de Pinto, desa nelayan sederhana yang juga memerlukan dermaga baru agar AmaMelodia bisa bersandar. Direktur Pelaksana Ama untuk Kolombia, Beno Atan, menghabiskan lima tahun memetakan kota-kota di sepanjang sungai untuk itinerary ini.

Saat riset, Atan datang ke Santa Barbara de Pinto untuk minum kopi dan akhirnya tinggal lebih lama karena tertarik pada perajin yang menggulung tembakau dan menenun jaring ikan. Ia banyak membantu perajin menentukan harga barang untuk kapal yang nantinya ia bawa ke sana.

Atan pernah mengingatkan seorang penjual agar tidak menurunkan harga terlalu jauh ketika menjual rokok linting tangan. Penjual itu awalnya ingin melepas 20 batang seharga 5 dolar, tetapi Atan menyarankan harga tetap sama dengan jumlah lebih sedikit. Perjalanan ini menunjukkan bagaimana kapal pesiar bisa membuka akses langsung ke perajin lokal di kota-kota yang jarang dikunjungi wisatawan mancanegara.

Reporter: Rizal Hamdani
Sumber: cntraveler.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top