SUMATERA SELATAN — Kabupaten Mimika membawa nama Tanah Papua ke Indonesia Walking Football Championship (IWFC) atau Liga 1 Walking Football di Cibubur, 3-5 Oktober 2026. Dua tim kategori usia 48-50 tahun disiapkan, ditemani skuad putri dan putra untuk laga persahabatan melawan sejumlah negara Asia Pasifik.
Keikutsertaan Mimika dalam liga yang diikuti 24 tim tersebut menjadi tumpuan Provinsi Papua Tengah. Persejasi di wilayah Tanah Papua belum memiliki pengurus, sementara Papua Tengah sudah terbentuk dan aktif melakukan sosialisasi.
Ketua Persatuan Sepak Bola Berjalan Seluruh Indonesia (Persejasi) Papua Tengah, Habel Taime, memastikan Mimika menurunkan dua tim pada kategori usia 48-50 tahun. Selain itu, pegiat putri usia 38-40 tahun dan putra usia 60 tahun dijadwalkan mengikuti laga persahabatan melawan sejumlah negara Asia Pasifik pada tanggal yang sama.
"Kita mewakili seluruh Tanah Papua. Kebetulan memang Persejasi di Tanah Papua itu belum ada. Baru sosialisasi, dan yang baru ada pengurus itu di Papua Tengah," ungkap Habel Taime, Senin (14/9/2026).
Keikutsertaan Mimika tidak datang tanpa modal. Pada Kejuaraan Asia Pasifik di Bali akhir 2025, tim Papua Tengah menjadi runner-up kategori usia 60 tahun. Di ajang Fornas 2025 Nusa Tenggara Barat, tim Mimika yang mewakili Papua Tengah meraih medali emas di hampir seluruh kategori yang diikuti plus satu medali perak.
"Ini yang menjadi modal kami bisa ikut liga satu. Kami coba akan buat yang terbaik untuk Provinsi Papua Tengah," kata Habel.
Target utama tim bukan sekadar kemenangan. Habel menekankan keselamatan pemain sebagai prioritas, mengingat walking football punya aturan khusus yang melarang pemain berlari, melakukan sliding, body charge, dan tackle keras.
"Kita harap bermain baik. Kalau kita bisa terapkan itu, saya pikir nanti kemenangan akan datang sendiri. Asal jaga keselamatan itu yang utama," jelasnya.
Habel berharap kehadiran pegiat Mimika di kompetisi tersebut menjadi bukti bahwa usia tidak menghalangi masyarakat Papua untuk tetap berprestasi di panggung nasional maupun Asia Pasifik.
"Walaupun usia kita senja, tapi kita masih mampu berprestasi di tingkat Asia Pasifik bahkan di tingkat nasional. Kita masih bisa berbicara," pungkas Habel.