SUMATERA SELATAN — Latihan paling sederhana adalah meniup. Bisa dengan meniup gelembung sabun, peluit, atau bahkan meniup lilin saat ulang tahun. Arif menjelaskan, kegiatan meniup melatih otot wajah, mulut, dan lidah.
"Jadi misalkan apa untuk melatih otot, wajah, dan mulut ataupun lidah dengan meniup. Meniup itu kan menghembuskan nafas," ujarnya kepada RRI.
Selain meniup, orang tua bisa mengajak anak minum menggunakan sedotan. Gunakan minuman kental seperti jus atau susu agar otot mulut bekerja lebih kuat. Latihan ini bisa dilakukan sambil bermain di rumah, tanpa perlu peralatan khusus.
Jangan lupa juga mengajak anak menirukan ekspresi wajah. Gerakan sederhana seperti mengerutkan bibir, menjulurkan lidah, atau tersenyum lebar bisa menjadi pemanasan yang baik sebelum masuk latihan bicara.
Bicara bukan hanya soal bunyi, tapi juga kontrol napas. Jika napas tidak teratur, anak mudah ngos-ngosan dan bicaranya terputus-putus. Arif menekankan pentingnya latihan pernapasan sebagai tahap awal.
"Jadi melatih bicaranya tidak harus e suara terlebih dahulu, tapi adalah kemampuan dia untuk bisa meniru gerakan mulut terlebih dahulu. Kemudian kontrol pernapasan. Ini kan pernapasan ini penting, nggak nanti ya. Jadi berbicara itu kalau nggak ngatur napas jadi ngos-ngosan, jadi bicaranya menjadi terbatas-batas," paparnya.
Orang tua bisa mengajak anak menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan sambil bersuara. Lakukan berulang kali dengan ritme yang menyenangkan, misalnya sambil berdiri di depan cermin.
Setelah otot mulut dan napas terlatih, barulah masuk tahap meniru bunyi. Jangan dulu memaksa anak mengucapkan kata utuh. Arif menyarankan memulainya dengan huruf vokal A, I, U, E, O. Latihan ini sekaligus melatih kontrol napas saat mengeluarkan suara.
Lakukan secara bertahap. Misalnya, ajak anak menirukan gerakan mulut Anda saat mengucapkan "A-", lalu perlahan gabungkan dengan napas. Suasana santai dan tidak terburu-buru akan membantu anak merasa nyaman.
Stimulasi motorik oral memang butuh kesabaran, tapi dengan rutinitas di rumah, anak bisa mendapat latihan tambahan di luar jadwal terapi. Yang terpenting, jadikan semua sesi ini menyenangkan. Anak belajar lewat permainan, dan orang tua jadi saksi setiap perkembangan kecilnya.