SUMATERA SELATAN — Perubahan paling mencolok adalah pembatasan waktu penggunaan gabungan kedua platform hingga sekitar dua jam per hari bagi pengguna muda. Meta juga diwajibkan memblokir akses pada tengah malam hingga pagi hari serta mengurangi notifikasi di jam sekolah.
Pengguna remaja akan mendapat perlindungan lebih kuat terhadap rekomendasi konten tertentu. Meta harus menyediakan opsi feed yang tidak dipersonalisasi dan memperkuat sistem verifikasi usia agar akun remaja lebih sulit menyamarkan umur mereka.
Kontrol orang tua juga menjadi bagian penting dari kebijakan baru ini. Orang tua mendapat akses pengaturan yang lebih ketat untuk memantau aktivitas anak di platform.
Korea Media and Communications Commission (KMCC) meminta Meta menerapkan perlindungan baru tersebut secara global, bukan hanya di Amerika Serikat. Regulator Korea Selatan menilai langkah Meta membuktikan platform memiliki kemampuan teknis untuk mengurangi risiko media sosial terhadap anak dan remaja.
Negeri Gingseng sendiri tengah membahas rancangan aturan perlindungan anak di media sosial, termasuk pembatasan usia lebih ketat dan pengurangan fitur algoritmik untuk pengguna muda.
Desakan regulator Asia relevan dengan Indonesia yang juga memperketat perlindungan anak di ruang digital. Namun sejauh ini belum ada pengumuman bahwa seluruh ketentuan penyelesaian gugatan Meta di AS akan otomatis diterapkan kepada pengguna Instagram dan Facebook di Indonesia.
Jika tekanan dari regulator Asia dan negara lain terus meningkat, standar perlindungan remaja Meta berpeluang diperluas ke lebih banyak pasar, termasuk Indonesia.
Kebijakan baru ini belum lepas dari kritik. Mantan petinggi keselamatan Meta, Arturo Bejar, menilai kesepakatan tersebut belum menyelesaikan persoalan mendasar mengenai bagaimana algoritma Instagram memengaruhi pengguna muda.
Pertarungan mengenai bagaimana Instagram, Facebook, dan media sosial lain seharusnya memperlakukan pengguna remaja kemungkinan belum selesai.