Ribuan pelaku UMKM yang tersebar di 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan menjadi sasaran utama program ini. Intervensi yang selama ini berorientasi pada bantuan peralatan dan pelatihan dinilai belum cukup untuk mendorong usaha kecil agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
"UMKM adalah tulang punggung perekonomian daerah. Ia menciptakan lapangan kerja, menggerakkan konsumsi, membuka peluang usaha dan menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat," kata Herman Deru dalam sambutannya saat melepas kegiatan tersebut.
Tantangan terbesar UMKM Sumsel saat ini bukan lagi bagaimana mendapatkan modal, melainkan bagaimana membangun usaha yang profesional dan berkelanjutan. Naik kelas berarti pelaku usaha memiliki legalitas, mampu menjaga kualitas produk, memanfaatkan teknologi, serta memperluas jangkauan pasar hingga masuk ke rantai pasok industri.
Produk lokal harus diolah menjadi komoditas bernilai tambah tinggi. Bahan baku dari sektor perkebunan, pertanian, dan perikanan tidak lagi dijual mentah, tetapi diolah terlebih dahulu agar harga jualnya meningkat.
Program ini tidak bisa berjalan sendiri. Gubernur meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Sumsel berperan aktif menjadi eksekutif pembangunan UMKM sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing.
Kegiatan Jelajah UMKM Sumsel 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni belaka. Rangkaian acara yang melibatkan pelaku usaha, perbankan, dan platform digital ini menjadi ajang bagi pelaku UMKM untuk belajar langsung tentang manajemen usaha, pemasaran digital, dan akses pembiayaan.
Dengan kolaborasi lintas sektor tersebut, target menciptakan UMKM yang produktif, kompetitif, dan berdaya saing global di Sumatera Selatan dinilai bukan sekadar wacana. Pasar lokal menjadi pijakan awal untuk menembus pasar regional, nasional, hingga global.