Kualitas Udara Palembang Kritis, PM2.5 Tembus 203 µg/m³ di Dini Hari, Warga Diimbau Gunakan Masker

Penulis: Ahmad Syukri  •  Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47:01 WIB
Konsentrasi PM2.5 di Palembang mencapai 203 µg/m³ pada pukul 01.00 WIB, masuk kategori sangat tidak sehat.

PALEMBANG — Kabut asap kembali menyelimuti ibu kota Sumatera Selatan dan membuat kualitas udara di Palembang berada pada level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Stasiun Pemantau Kualitas Udara Musi Palembang, konsentrasi PM2.5 sempat menyentuh 203 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 01.00 WIB, jauh melampaui ambang batas kategori sehat yang berada di bawah 55,5 µg/m³.

Angka tersebut masuk dalam kategori "sangat tidak sehat" atau berwarna merah pada Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Satu jam berselang, konsentrasi masih bertahan di level tinggi, yakni 198,6 µg/m³, sebelum sempat turun menjadi 92,9 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB.

Penurunan tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki pagi hari saat aktivitas warga mulai padat, polusi kembali meningkat. Pada pukul 07.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat berada di angka 142,9 µg/m³, yang masih masuk dalam kategori "tidak sehat".

Kabut Asap Karhutla Jadi Pemicu Utama

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyebut fluktuasi kualitas udara ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Kabut asap yang dihasilkan kemudian terbawa angin dan menumpuk di langit Palembang.

“Kualitas udara di Palembang pada hari ini kian memburuk, tercatat sangat tidak sehat atau kategori merah pada pukul 01.00 WIB dan 02.00 WIB. Bahkan hingga pagi hari masih belum membaik, karena masih kuning atau tidak sehat,” ujar Wandayantolis, Sabtu (22/8/2026).

Kelompok Rentan Paling Berisiko

Lonjakan polusi yang terjadi sejak dini hari hingga pagi menjadi perhatian serius karena bertepatan dengan mulai meningkatnya mobilitas warga. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan dinilai paling berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat menghirup udara tercemar.

Wandayantolis mengingatkan masyarakat untuk memantau perkembangan kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker menjadi langkah mitigasi paling sederhana yang disarankan untuk mengurangi dampak buruk polusi.

“Masyarakat diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, mengingat kualitas udara kian memburuk pada hari ini,” katanya.

Selain masker, warga yang memiliki aktivitas di luar ruangan dalam durasi panjang disarankan untuk membatasi waktu dan segera mencari tempat berteduh jika merasakan gejala seperti sesak napas, iritasi mata, atau batuk berkepanjangan.

Pemerintah Diminta Percepat Penanganan Karhutla

Kondisi ini sekaligus menjadi alarm atas masih tingginya titik api di lapangan. Penanganan karhutla yang cepat dan terkoordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dinilai menjadi kunci untuk memutus sumber pencemaran udara di Palembang.

Masyarakat juga diharapkan aktif melaporkan jika menemukan titik api di sekitar permukiman atau lahan gambut. Partisipasi warga dalam pengawasan menjadi penting mengingat sebagian besar kebakaran lahan kerap dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan yang tidak terkendali.

Reporter: Ahmad Syukri
Sumber: relung.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top