El Nino Kuat Keringkan Sumsel hingga September, BMKG Ingatkan Risiko Karhutla di 17 Kabupaten Kota

Penulis: Rizal Hamdani  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:21:01 WIB
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel menjelaskan dampak El Nino dan IOD positif terhadap mundurnya awal musim hujan di Sumatera Selatan.

PALEMBANG — Ancaman kekeringan di Sumatera Selatan memasuki fase kritis. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menyebut El Nino yang menguat turut disertai fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Dua fenomena global ini secara bersamaan memangkas pasokan hujan ke wilayah Sumatera, membuat kondisi kering terasa sejak Juni hingga awal Agustus.

"Harusnya pertengahan Oktober kita sudah masuk awal musim hujan. Namun dengan El Nino yang intensitasnya sangat kuat, ada potensi awal musim hujan mundur ke akhir Oktober atau bahkan awal November," kata Wandayantolis di Palembang, Selasa.

Puncak Kemarau dan Ancaman Karhutla di Sumsel

BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau di Sumsel terjadi pada rentang Agustus hingga September. Periode ini menjadi titik paling rawan karena tingkat kekeringan mencapai level tertinggi.

Imbauan kewaspadaan pun ditujukan kepada masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan. Pasalnya, lahan gambut yang tersebar luas di Sumsel sangat rentan terbakar ketika kondisi permukaan tanah mengering dalam waktu lama.

Mengapa Awal Musim Hujan di Sumsel Mundur?

Mundurnya awal musim hujan merupakan efek berantai dari menguatnya El Nino. Normalnya, transisi menuju musim hujan dimulai pada pertengahan Oktober.

Namun, jika El Nino terus berkembang menjadi sangat kuat, periode transisi itu tertahan. Akibatnya, curah hujan yang diharapkan menjadi penawar kebakaran justru datang lebih lambat dari jadwal normal.

Yang Perlu Disiapkan Pemerintah Daerah dan Warga

Menghadapi situasi ini, langkah mitigasi menjadi kata kunci. Pemerintah daerah diminta menyiapkan sistem peringatan dini dan memperkuat patroli terpadu di titik-titik rawan karhutla.

Untuk warga, BMKG mengimbau agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Praktik ini kerap menjadi pemicu utama meluasnya kebakaran saat kemarau panjang melanda Sumsel.

Kewaspadaan ekstra perlu dijaga selama dua bulan ke depan, mengingat dampak El Nino tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan periode kemarau sebelumnya.

Reporter: Rizal Hamdani
Sumber: sumsel.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top