PALEMBANG — Harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani Provinsi Sumatera Selatan tercatat naik sebesar Rp63,79 per kilogram pada awal Agustus 2026. Angka ini menjadi sinyal positif bagi perkebunan rakyat yang selama beberapa bulan terakhir menahan beban biaya operasional di tengah fluktuasi harga global.
Kenaikan ini dipicu oleh membaiknya harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional serta meningkatnya permintaan dari pabrik-pabrik pengolahan di wilayah Sumatera Selatan. Para petani yang tergabung dalam koperasi unit desa (KUD) kini mulai merasakan dampak langsung dari pergerakan harga tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Perkebunan setempat, kenaikan harga TBS ini berlaku untuk semua kelompok umur tanaman. Untuk tanaman berumur 3 tahun, harga mengalami kenaikan yang proporsional sesuai dengan rendemen minyak yang dihasilkan.
Biasanya, harga TBS cenderung tertekan ketika pasokan buah melimpah di musim panen raya. Namun, kali ini terjadi hal sebaliknya. Penguatan harga TBS di Sumatera Selatan tidak terlepas dari serapan industri pengolahan yang masih tinggi.
Sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) di Kabupaten Musi Banyuasin dan OKI disebut-sebut masih mengejar target produksi CPO untuk memenuhi kontrak ekspor. Kondisi ini membuat persaingan antar pabrik untuk mendapatkan bahan baku dari petani semakin ketat, sehingga harga di tingkat petani ikut terangkat.
Kenaikan Rp63,79 per kilogram ini mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, namun bagi petani dengan lahan seluas 2 hektare, tambahan pendapatan ini cukup berarti. Dengan produktivitas rata-rata 1,5 ton per hektare per bulan, seorang petani bisa mendapatkan tambahan pendapatan hampir Rp200 ribu dalam sekali panen.
“Kami berharap tren positif ini bisa bertahan hingga akhir tahun. Biaya pupuk dan perawatan saat ini masih tinggi, jadi kenaikan harga ini sangat membantu,” ujar seorang petani di Kabupaten Banyuasin saat ditemui di lokasi pengumpulan TBS.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Dinas Perkebunan akan terus memantau perkembangan harga ini setiap pekan. Penetapan harga TBS dilakukan secara berkala dengan melibatkan pemerintah kabupaten/kota, asosiasi pengusaha sawit, dan perwakilan petani.
Dengan kondisi cuaca yang mulai mendukung dan harga yang membaik, optimisme petani sawit Sumatera Selatan untuk meningkatkan produksi pada semester kedua 2026 semakin besar. Jika harga bertahan di level saat ini, daya beli petani di daerah pedesaan dipastikan akan menggeliat.