SUMATERA SELATAN — Angka tersebut dirilis Wuling Motors pada penutupan GIIAS 2026, pekan ini. Dari total 3.290 SPK yang berhasil dibukukan Wuling selama pameran, Aira EV menjadi tulang punggung penjualan. Darion EV menyusul di posisi kedua dengan 517 unit, dan Eksion EV di posisi ketiga dengan 179 unit.
Data ini sekaligus menjawab pertanyaan besar soal preferensi konsumen Indonesia terhadap mobil listrik perkotaan: jarak tempuh masih menjadi pertimbangan utama, bukan sekadar harga masuk. Varian Long Range yang dipesan mencapai 2.073 unit, sementara Standard Range hanya 165 unit — rasio yang sangat timpang.
Selisih harga antara kedua varian tidak disebutkan dalam rilis resmi, tetapi dari data SPK, konsumen jelas lebih memilih baterai berkapasitas lebih besar. Varian Long Range menawarkan jarak tempuh hingga 301 km (CLTC), sementara Standard Range hanya 205 km (CLTC).
Untuk konteks harian di kota besar seperti Jakarta, angka 205 km sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan commute. Namun, psikologi pembeli mobil listrik pertama di Indonesia masih didominasi kecemasan akan jarak (range anxiety). Pilihan Long Range memberi ruang napas lebih luas, terutama untuk pemakaian akhir pekan ke luar kota.
Wuling juga mencatatkan 1.648 aktivitas test drive untuk Aira EV dari total 2.203 pengujian di booth mereka. Angka ini relevan karena menunjukkan minat yang berbanding lurus dengan keputusan pembelian, bukan sekadar ramai dilihat.
Program Deal n Drive yang digelar selama pameran juga menyumbang 147 unit Aira EV Long Range yang langsung diserahterimakan ke konsumen. Ini strategi yang cerdas — mengubah pengunjung pameran menjadi pemilik dalam hitungan hari, bukan minggu.
Meski angka SPK impresif, ada beberapa catatan yang perlu dipertimbangkan sebelum Anda ikut memesan. Pertama, jarak tempuh yang diklaim menggunakan standar CLTC (China Light-Duty Vehicle Test Cycle) yang cenderung lebih optimistis dibandingkan WLTP atau NEDC. Dalam kondisi real-world dengan AC menyala dan lalu lintas padat, angka tersebut biasanya turun 10-15 persen.
Kedua, infrastruktur pengisian daya di luar Jabodetabek masih menjadi tantangan. Jika Anda tinggal di kota besar dengan akses ke SPKLU atau home charging, Aira EV adalah pilihan masuk akal. Namun untuk penggunaan lintas kota tanpa perencanaan rute yang matang, mobil ini bisa menjadi sumber stres.
Ketiga, harga. Wuling belum mengumumkan harga resmi Aira EV dalam rilis ini, tetapi posisinya sebagai city car EV menempatkannya bersaing langsung dengan model sekelas di rentang harga yang sama. Jika varian Long Range dibanderol di atas Rp 300 jutaan, pertimbangkan juga opsi kompetitor dengan fitur serupa.
Keberhasilan Aira EV di GIIAS 2026 menunjukkan Wuling membaca pasar dengan baik: mobil listrik kecil dengan desain menarik dan jarak tempuh kompetitif. Untuk pengguna perkotaan yang memiliki akses charging pribadi, Aira EV varian Long Range adalah pilihan yang sangat menarik.
Namun, jika Anda sering melakukan perjalanan antar kota atau tinggal di daerah dengan infrastruktur charging terbatas, mobil ini belum tentu menjadi pilihan terbaik. Pencapaian SPK yang tinggi tidak otomatis berarti produk ini cocok untuk semua orang — itu hanya berarti Wuling berhasil meyakinkan 2.238 orang bahwa mobil ini menjawab kebutuhan mereka.
Keputusan akhir tetap di tangan Anda. Data penjualan memang kuat, tetapi pastikan Aira EV sesuai dengan pola pemakaian harian Anda sebelum mengeluarkan uang puluhan juta rupiah.