SUMATERA SELATAN — Para siswa SMPN 2 Mandau di Kabupaten Bengkalis, Riau, kini tidak hanya belajar teori energi terbarukan di dalam kelas. Sejak pekan ini, mereka merasakan langsung manfaatnya: aliran listrik di laboratorium IPA sekolah berasal dari panas matahari yang diubah menjadi energi melalui PLTS anyar milik Pertamina NRE.
Inisiatif ini merupakan wujud nyata komitmen subholding BUMN energi tersebut dalam transisi energi yang menyentuh akar rumput. Alih-alih sekadar membangun pembangkit, Pertamina NRE memilih sekolah sebagai titik masuk untuk membiasakan generasi muda pada teknologi hijau.
Sistem PLTS yang terpasang memiliki kapasitas puncak 2,2 kiloWatt peak (kWp) dengan penyimpanan energi baterai berdaya 5 kWh. Kapasitas ini dinilai cukup untuk menopang kebutuhan listrik harian sekolah, khususnya untuk aktivitas praktikum di laboratorium IPA yang kerap membutuhkan pasokan stabil.
Manfaat ekonomi dari instalasi ini juga terukur. Pertamina NRE menghitung, efisiensi biaya listrik yang diraih sekolah mencapai Rp295.728 per tahun. Meski nominalnya tidak besar, bagi sekolah negeri di daerah, dana tersebut dapat dialokasikan ulang untuk kebutuhan operasional lain.
Dampak lingkungannya lebih signifikan. Dengan mengandalkan sinar matahari, sekolah ini diperkirakan mampu menekan produksi karbon dioksida sebanyak 2,25 ton setiap tahunnya—setara dengan penyerapan puluhan pohon dewasa.
Kepala Sekolah SMPN 2 Mandau, Willyan Iswandi, menyambut baik kehadiran fasilitas ini. Ia menilai PLTS tidak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga alat peraga hidup bagi 768 siswa dan 5 guru di sekolahnya.
"Kami sangat mengapresiasi program Sekolah Energi Berdikari yang hadir di SMPN 2 Mandau. PLTS ini membantu mendukung aktivitas di lingkungan sekolah, khususnya kegiatan pembelajaran di laboratorium IPA. Di sisi lain, siswa juga dapat melihat secara langsung bagaimana energi matahari dimanfaatkan menjadi energi listrik," ujar Willyan pada Rabu (29/7).
Ia berharap fasilitas ini dapat menambah wawasan siswa mengenai energi terbarukan, tidak hanya dari buku tetapi dari pengamatan sehari-hari di lingkungan sekolah sendiri.
Manager Corporate Communication & Stakeholder Management Pertamina NRE, Susanto August Satria, menegaskan bahwa program TJSL ini dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang, bukan sekadar seremonial. Pihaknya ingin menggeser paradigma energi terbarukan dari sesuatu yang abstrak menjadi bagian dari keseharian pelajar.
"Melalui Sekolah Energi Berdikari, kami ingin menghadirkan pemanfaatan energi terbarukan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Di lingkungan sekolah, kehadiran PLTS diharapkan dapat membantu mendukung aktivitas belajar mengajar sekaligus memperkenalkan pemanfaatan energi bersih kepada generasi muda melalui pengalaman yang dekat dengan keseharian mereka," jelas Susanto.
Ia menambahkan, harapannya program ini menumbuhkan pemahaman bahwa energi bersih bisa diadopsi secara praktis. "Dari sekolah, kami berharap semakin banyak generasi muda yang mengenal, memahami, dan nantinya turut mengambil peran dalam perjalanan menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," tutupnya.
Kehadiran PLTS di SMPN 2 Mandau menjadi contoh konkret bagaimana BUMN energi menjalankan peran ganda: menjaga ketahanan energi nasional sekaligus membangun kesadaran ekologis sejak bangku sekolah.