SUMATERA SELATAN — Motorola kembali memanaskan segmen ponsel lipat di Indonesia dengan menghadirkan Razr 60 dalam balutan warna eksklusif PANTONE Lightest Sky. Varian ini resmi meluncur pada 27 Juli 2026 dan hanya tersedia di jaringan Erafone. Saya sudah memegang langsung unit ini selama beberapa hari untuk melihat apakah klaim desain premium dan kemampuan AI-nya sebanding dengan banderol harga yang menyentuh angka 11 juta rupiah.
Ini adalah daya tarik utama Razr 60. Layar eksternal pOLED 3,6 inci memungkinkan Anda menjalankan berbagai aplikasi tanpa perlu membuka ponsel. Saya bisa membalas WhatsApp, memeriksa cuaca, bahkan menggunakan Google Gemini langsung dari layar depan. Ukuranya memang yang terbesar di antara ponsel lipat clamshell saat ini, dan ini sangat membantu untuk notifikasi cepat.
Sementara itu, layar utama 6,9 inci pOLED LTPO dengan refresh rate 120Hz dan kecerahan puncak 3.000 nits terasa sangat responsif dan tajam. Menonton video HDR di layar ini dengan dukungan Dolby Atmos benar-benar imersif. Namun, karena ini adalah panel lipat, lipatan di tengah layar masih terasa saat disentuh, meski klaim Motorola soal desain lipatan yang semakin rapat cukup terbukti.
Motorola Razr 60 menjadi perangkat pertama dengan sertifikasi Pantone Validated dan Pantone SkinTone Validated. Apa artinya? Hasil foto dari kamera utama 50MP OIS punya reproduksi warna yang sangat akurat, terutama untuk warna kulit. Dalam pengujian saya di kondisi cahaya minim, kamera ini mampu menangkap detail dengan noise yang terkendali berkat Optical Image Stabilization dan Instant All-Pixel Focus.
Kamera ultrawide 13MP juga berguna untuk foto landscape atau makro dari jarak 2,5 cm. Namun, saya tidak merekomendasikan mengandalkan kamera ini untuk video slow-motion atau zoom di atas 2x — kualitasnya turun drastis. Fitur moto AI seperti Adaptive Stabilization dan Auto Smile Capture bekerja dengan baik, tapi jangan berharap hasilnya bisa menyaingi flagship kamera seperti seri Galaxy S atau Pixel.
Ini adalah titik paling kontroversial dari Razr 60. Ditenagai MediaTek Dimensity 7400X dengan RAM 8GB, performa ponsel ini terasa halus untuk scrolling media sosial, browsing, dan multitasking ringan. Namun, saat saya coba menjalankan game berat seperti Genshin Impact di pengaturan tinggi, frame rate mulai turun dan bodi belakang terasa hangat. Chipset ini jelas kalah dari Snapdragon 7+ Gen 3 atau Dimensity 8300 yang biasa ditemukan di ponsel harga Rp8-10 jutaan.
Dengan harga Rp11 juta, Anda membayar lebih untuk faktor bentuk lipat dan layar cover, bukan untuk performa mentah. Jika prioritas utama Anda adalah gaming atau editing video, ada opsi lain yang lebih bertenaga di harga yang sama.
Baterai 4.500mAh cukup untuk bertahan satu hari penuh dengan pemakaian normal — notifikasi, media sosial, dan sesekali foto. Pengisian cepat 30W TurboPower terasa lambat di tahun 2026, mengingat kompetitor sudah banyak yang menawarkan 65W atau lebih. Setidaknya, ada dukungan wireless charging 15W dan Wi-Fi 7, yang merupakan nilai tambah.
Sertifikasi IP48 berarti ponsel ini tahan terhadap benda padat lebih dari 1mm, tapi tidak sepenuhnya kedap debu. Engsel titanium bersertifikasi SGS yang diklaim tahan 500.000 lipatan memberikan rasa percaya diri saat melipat dan membuka ponsel. Namun, saya tetap menyarankan penggunaan case untuk menghindari baret pada bodi yang mengilap ini.
Motorola Razr 60 PANTONE Lightest Sky adalah ponsel lipat untuk Anda yang mengutamakan gaya, pengalaman layar cover yang unik, dan akurasi warna kamera untuk fotografi sosial. Jika Anda adalah tipe pengguna yang sering selfie, ingin ponsel yang praktis tanpa sering dibuka, dan tidak terlalu peduli dengan performa gaming berat, ponsel ini layak dipertimbangkan.
Tapi, jika Anda mencari performa flagship atau pengisian daya super cepat, ada banyak pilihan lain di rentang harga Rp10-12 juta yang menawarkan lebih banyak kekuatan mentah. Pada akhirnya, Razr 60 adalah pernyataan gaya yang dibungkus dalam teknologi yang cukup baik, bukan monster performa.