SUMATERA SELATAN — Berdasarkan evaluasi berkala Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diumumkan Senin (27/7), NCKL bersama PT Indika Energy Tbk (INDY) menggantikan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) di LQ45. Susunan baru indeks yang berisi 45 emiten paling likuid ini berlaku hingga 30 Oktober 2026.
Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, menilai masuknya NCKL ke LQ45 dan IDX80 memberikan keuntungan ganda. "Tingkat likuiditas sahamnya diproyeksikan akan meningkat," ujarnya kepada Katadata.co.id, Selasa (28/7).
Menurut Azharys, konstituen IDX80 memenuhi syarat sebagai aset acuan penerbitan Waran Terstruktur (Structured Warrants). Semakin banyak produk investasi yang menggunakan saham NCKL sebagai acuan, semakin besar potensi peningkatan aktivitas perdagangan.
Dari sisi fundamental, prospek NCKL didukung rampungnya sejumlah proyek strategis pada paruh pertama 2026. Proyek Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) berkapasitas 65.000 ton feronikel per tahun dan fasilitas produksi kapur tohor untuk efisiensi pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) diperkirakan mulai berkontribusi pada semester kedua tahun ini.
KISI memproyeksikan target harga saham NCKL di level Rp 1.000 per saham. Sementara itu, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mempertahankan rekomendasi beli untuk NCKL. Ia menilai posisi perseroan sebagai pemain utama ekosistem nikel terintegrasi masih menarik.
Kendati prospek cerah, Elandry mengingatkan dampak positif masuk indeks umumnya bersifat jangka pendek. "Dalam jangka menengah hingga panjang, pergerakan harga saham tetap ditentukan oleh fundamental dan kinerja keuangan," jelasnya.
Investor perlu mencermati sejumlah risiko utama: fluktuasi harga nikel global, potensi oversupply, serta perubahan kebijakan di sektor pertambangan yang dapat memengaruhi margin. Permintaan dari industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) juga menjadi penentu utama prospek sektor nikel ke depan.